Senin, 19 Mei 2025

Telepon yang Tak Pernah Selesai

Ada suara dari masa lalu,
datang melalui sambungan telepon yang ragu-ragu.
Katanya ingin bicara,
tapi tak jelas ingin apa.

Kupilih jujur,
menjabarkan luka yang pernah kubalut sendiri,
mengurai simpul yang tak pernah dia pahami,
menjawab pertanyaan yang seharusnya bukan untukku lagi.

Tapi, kenapa kau diam di akhir?
Tak ada “terima kasih”,
tak ada “selamat tinggal”…
hanya keheningan yang diputus seperti sinyal.

Haruskah aku marah?
Tidak.
Aku hanya merasa…
lelah jadi jawaban untuk orang yang datang karena penasaran, bukan karena peduli.

Biarlah,
kalau memang harus selesai begini,
aku ikhlaskan telepon itu
sebagai akhir dari bab yang memang tidak perlu dibuka lagi.




"Aku Sudah Bicara"


oleh: Celly Tomokianz

Aku sudah diam, bertahun-tahun,
menyimpan luka, menahan dendam.
Kupikir cukup kutelan sendiri,
tanpa perlu dunia ikut mengerti.

Tapi hari ini aku bicara—
tentang janji yang tak ditepati,
tentang anak yang tak dinafkahi,
tentang luka yang kalian beri lalu pura-pura tak tahu diri.

Kalian datang,
mencari-cari kesalahan dari tempat yang telah kutinggalkan.
Kalian bertanya, lalu pergi,
tanpa pamit, tanpa empati,
seolah-olah aku hanya angin yang tak perlu dipahami.

Aku sudah bicara,
bukan untuk menyakiti,
tapi agar kalian berhenti menyakiti.

Kalau setelah ini kalian tetap tak mau dengar,
silakan.
Tapi jangan pernah bilang aku tak pernah menjelaskan.


Minggu, 18 Mei 2025

SURAT UNTUK DIA



Untukmu, yang selalu datang dengan amarah,
Seolah aku adalah sebab dari luka-lukamu
Seolah aku masih harus menunduk
Padahal aku sudah terlalu sering kau injak diam-diam.

Kau datang lagi—dengan kata-kata tajam
Yang tak kupinta, tak kunanti,
Tapi selalu kau lemparkan seolah aku papan sasaran
Padahal yang aku lakukan hanya… bertahan.

Aku tidak ingin membalas,
Bukan karena aku kalah,
Tapi karena aku tidak ingin menjadi
Apa yang telah mengubahmu jadi seperti itu.

Kini, aku hanya menjauh
Bukan untuk membuatmu kalah,
Tapi untuk membuat diriku tenang
Dan anak kita—tak tumbuh dalam badai kata.

Jangan salah artikan diamku
Bukan karena aku tidak bisa berbicara
Tapi karena aku sudah terlalu sering bicara
Dan kau memilih untuk tetap tidak mendengar.

Jadi kali ini,
Aku memilih menjadi sunyi
Yang tidak lagi menyebut-nyebut namamu
Bahkan dalam tangis yang aku tahan diam-diam.

Cukup sampai sini.
Tak perlu lagi kau mengetuk ruang yang sudah aku kunci
Sebab kini, pintu itu bukan lagi tempatmu kembali—
Melainkan tempatku sembuh… perlahan, meski sendiri.



Ditulis oleh:
Celly Tomokianz

🕊️

DIAMKU BUKAN UNTUKMU


Jangan datang padaku membawa pertanyaan,
sedang kau tinggalkan aku bersama beban yang tak kau pikul.
Jangan ajukan klarifikasi,
jika yang kau cari hanyalah pembenaran untuk lari dari tanggung jawab.

Aku bukan tempat menampung limbah dari luka yang kau ciptakan sendiri.
Aku bukan penghapus dosa yang kau ulang-ulang tanpa penyesalan.

Diamku bukan tanda rindu,
tapi pilihan untuk tidak lagi menjatuhkan harga diriku
demi mendengar alasan yang tak pernah berubah.

Dan jika kau pikir aku akan kembali meratap
pada kenangan yang kau injak tanpa rasa bersalah,
ketahuilah: aku sudah berdamai dengan sunyi yang tak menyebut-nyebut namamu lagi.

— Celly Tomokianz 🖤


SUARA YANG TAK DIANGGAP 3



Penulis: Celly Tomokianz

(Bagian 3 – “Insiden yang Membuka Mata”)

Hari itu aula sekolah penuh sesak. Anak-anak duduk berbaris, bersiap tampil dalam pentas seni yang selama ini diributkan. Ibu-ibu bergaya berlalu-lalang, sibuk dengan kamera ponsel, merapikan make-up anak, mengatur baju agar tetap tampak mewah di layar sosial media.

Tiba giliran anak laki-laki Anisa tampil—sederhana, polos, tapi penuh semangat. Saat ia selesai menari, ia melihat ke arah ibunya di pojok aula, lalu melambaikan tangan dengan bangga. Anisa tersenyum, menahan haru. Meski tak seheboh anak-anak lain, tapi itu tulisan cinta paling jujur antara ibu dan anak.

Tak lama setelah itu, kericuhan kecil terjadi.

Salah satu ibu berteriak karena kostum anaknya terkena noda dari make-up anak lain. Lalu terjadi adu mulut, disaksikan anak-anak. Suasana pentas seni berubah jadi tegang. Beberapa guru panik, acara sempat dihentikan.

“Lihat kan, Bu... ini yang saya takutkan dari awal,” ucap Anisa perlahan, mendekati salah satu guru.

Beberapa orang tua yang awalnya diam mulai saling memandang. Mulai muncul bisikan:

“Benar juga ya kata Bu Anisa selama ini.”
“Acara seperti ini kok malah bikin ribut.”
“Harusnya sekolah lebih tegas, batasi gaya-gayaan yang nggak penting begitu.”

Esok harinya, grup WhatsApp wali murid ramai. Tapi kali ini bukan menyindir Anisa, justru banyak yang menyuarakan keinginan perubahan.

“Kami dukung sekolah buat acara yang sederhana tapi bermakna.”
“Kalau bisa mulai tahun depan, tanpa kostum mahal, tanpa EO, cukup kreatifitas anak dan guru.”
“Setuju kebijakan seperti yang sering disuarakan Pak Dedi Mulyadi... pendidikan harus kembali ke akarnya.”

Kepala sekolah akhirnya mengirimkan pengumuman resmi:

“Mulai semester depan, seluruh acara sekolah akan disesuaikan dengan nilai kesederhanaan, partisipatif, dan berfokus pada anak, bukan pada kompetisi gaya antarorang tua.”

Anisa membaca pengumuman itu sambil memeluk anaknya.

“Akhirnya, suara yang tak dianggap... mulai terdengar.”


 Ternyata tak semua diam.

Beberapa memang hanya menunggu satu suara pertama...
dan semoga setelah ini,
pendidikan kembali pada esensinya:
bukan tentang siapa yang terlihat paling mewah,
tapi siapa yang benar-benar peduli.”

Bersambung....

SUARA YANG TAK DIANGGAP 2

Penulis : Celly Tomokianz


(Bagian 2 – “Gaya Istri, Luka Suami”)

Minggu pagi di warung kopi dekat sekolah. Tiga orang ayah duduk membicarakan pentas seni yang akan digelar bulan depan. Sambil menyeruput kopi hitam dan menghembuskan napas lelah, mereka berbincang dalam nada rendah—takut terdengar, tapi terlalu sesak untuk disimpan.

Istriku minta duit buat beli gaun baru. Katanya biar matching sama ibu-ibu lain pas pentas seni nanti,” ucap seorang pria berkaos oblong, wajahnya kusut.
Aku udah kerja dari pagi sampai malam, tapi tetap saja kurang. Kadang pengin kabur aja dari semua ini.”

Yang lain menimpali:

Aku malah dipaksa cicil tas branded. Katanya biar nggak malu waktu rapat sekolah. Astaga... padahal anak kita cuma nari 5 menit di panggung kecil.”

Tertawa hampa mengisi meja kecil itu. Mereka bukan lelaki lemah, bukan pula tak sayang keluarga. Tapi gaya hidup istri-istri mereka yang ikut-ikutan bersaing di sekolah, membuat mereka kehabisan napas.

Sementara itu, di rumah kontrakannya yang sederhana, Anisa sedang menjahit pita kecil untuk kostum anaknya yang akan tampil. Ia tak minta sumbangan, tak beli baru, hanya memanfaatkan sisa kain dari tahun lalu.

Nisa, kamu ikut bantu rapat dekorasi nggak besok?” tanya tetangganya lewat pesan.

Anisa menjawab, Kalau untuk dekor panggung anak-anak, insya Allah. Tapi kalau rapatnya cuma isinya debat soal model baju dan EO, aku izin ya, Mbak...”

Jawabannya singkat, tapi bagi yang mengerti, itu bentuk luka dan perlawanan kecil.

Hari demi hari, nama Anisa makin terdengar asing di antara grup-grup WhatsApp sekolah. Ia sering tidak dilibatkan, tidak disapa. Tapi diam-diam, ada beberapa ibu lain yang mulai mengagumi sikapnya. Mereka yang juga sesak, tapi belum cukup berani untuk bersuara seperti Anisa.

Dan tanpa mereka sadari, Anisa sedang menjadi suara dari banyak orang yang diam.

Kalau semua diam karena takut tidak diterima,
maka sistem yang salah akan terus berjalan,
dan anak-anak kita... yang akan jadi korban.”


Bersambung


Lanjut part 3👉🏻👉🏻👉🏻

SUARA YANG TAK DIANGGAP

Penulis : Celly Tomokianz


*(Bagian 1 – “Sekolah atau Panggung Gaya?”)*


Namanya **Anisa**, ibu tunggal dari seorang anak laki-laki kelas dua SD. Sejak pagi, ia sudah bangun lebih awal—menyiapkan sarapan, bekal, lalu mengantar anaknya dengan motor tuanya yang sering mogok. Tapi hari ini bukan sekadar hari antar-jemput biasa, hari ini ada rapat sekolah.


Di aula, Anisa duduk paling belakang. Ia bukan pemalu, bukan pula penakut, tapi ia tahu... **keberadaannya jarang dianggap**. Ibu-ibu lain sudah lebih dulu datang dengan tas bermerek, baju modis, sepatu berkilau. Beberapa bahkan sibuk selfie sebelum rapat dimulai.


Saat kepala sekolah berbicara soal kegiatan pentas seni, seorang ibu menyela:


 “Kita bikin seragam baru ya Bu, yang bahannya bagus, dan jangan lupa make-up-nya profesional. Kalau bisa panggil EO, biar megah sekalian...”


Anisa mengangkat tangan.

“Maaf, Bu... Kalau acaranya fokus ke anak-anak, mungkin cukup sederhana saja. Yang penting anak senang dan tidak membebani orang tua.”


Ruangan langsung hening.

Beberapa ibu melirik dari ujung mata. Ada yang tersenyum sinis. Seorang ibu berbisik pada temannya, cukup keras untuk didengar:


 “Aduh, ini lagi yang ngomong. Udah tau nggak mampu, tapi rewel aja.”

Anisa tersenyum pahit. Sudah sering ia diperlakukan seperti itu.

Ia menunduk, menahan air mata. Bukan karena malu, tapi karena lelah.

"Kalau semua sudah ditentukan, untuk apa dimusyawarahkan?"
Pertanyaan itu tak pernah dijawab. Hanya dibalas dengan senyuman hambar dan pandangan yang menghakimi.

Suatu hari, Anisa mencoba bicara tentang kebijakan sekolah yang menyulitkan. Ia tidak marah, tidak kasar—hanya ingin didengar. Tapi hasilnya? Ia dicap sebagai pengacau. Ada yang berkata di belakang, “Sok pintar.” Ada yang menghindar, seolah ucapannya membawa racun.

Padahal, ia hanya ingin kebaikan untuk anak-anak, bukan panggung untuk dirinya.

Lelah karena **sekolah sekarang bukan lagi tempat belajar**, tapi sudah jadi **tempat pamer dan bersaing antarorang tua**.


 “Kata Pak Dedi itu gaya elit, ekonomi sulit,” gumamnya dalam hati, mengingat satu-satunya pejabat yang ia rasa benar-benar paham isi hati rakyat kecil.


Saat rapat selesai, Anisa berjalan pulang sendirian. Tidak ada yang menyapanya. Tapi ia tidak menyesal. Ia hanya ingin anak-anak bisa sekolah dengan damai. Tanpa harus menjadi ajang eksistensi orang tua. Tanpa harus membuat yang miskin merasa asing di tempat yang seharusnya menjadi rumah ilmu.


 “Kembalikan dunia pendidikan seperti dulu...” katanya dalam hati.

 “Di mana guru mengajar, murid belajar, dan orang tua percaya.”

 “Bukan ikut campur, bukan ikut gaya, bukan ikut membuat gaduh.”


---


Bersambung.... 



Sabtu, 17 Mei 2025

SENANDUNG HATI IBU



Senandung Hati Ibu

Di balik senyum yang kusambut tiap pagi,
tersembunyi letih yang tak pernah tumpah.
Dalam bisu langkahku yang sabar,
terdengar doa tanpa suara untuk masa depan yang sederhana.

Kupu-kupu kecilku menari di taman mimpi,
tak ingin kusulam beban yang berat pada sayapnya.
Namun gelombang dunia kadang deras menyapa,
membawa arus yang mencoba menyeretku jauh.

Aku hanyalah sebuah pelita kecil,
berusaha memberi cahaya tanpa padam,
meski angin dan hujan mencoba meredupkannya.
Aku ingin damai, bukan perang tanpa kemenangan.

Jika suara ini terlalu lembut untuk didengar,
aku akan tetap bernyanyi dalam diam,
menguatkan hati yang rapuh,
menjaga bunga kecil ini tetap mekar.

Tak semua jalan yang aku tempuh mudah,
ada duri yang tersembunyi di balik bunga.
Namun aku berjalan, tak gentar,
karena cinta adalah pelindung dan penggerakku.

Mereka mungkin tak selalu mengerti,
tapi aku percaya waktu yang akan bicara.
Suatu hari, kupu-kupu kecilku akan terbang tinggi,
bebas dari bayang yang selama ini membayangi.

Jadi aku terus bertahan, terus berharap,
karena ibu adalah pelita, penabur harapan.
Dalam sunyi, aku tetap berdiri,
menjaga mimpi, menjaga hati yang penuh cinta.



PEREMPUAN YANG TAK DIANGGAP (ENDING)

 

Bab 7: Tentang Sebuah Sekolah dan Perjuangan Seorang Ibu

Hari-hari menjelang kelulusan anak semata wayangnya dari Taman Kanak-Kanak terasa campur aduk bagi Rania. Harusnya ia bahagia, bangga, dan tenang menyambut fase baru sang anak yang akan melanjutkan ke Sekolah Dasar. Tapi semua tidak semudah itu.

Satu per satu kebutuhan mulai berdatangan: formulir pendaftaran, seragam, perlengkapan belajar, biaya administrasi. Rania sudah menyiapkan sedikit demi sedikit dari hasil kerja dan bantu suaminya yang sekarang. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu: ini adalah tanggung jawab bersama — termasuk ayah kandung anaknya.

Rania memberanikan diri menghubungi mantan suaminya, meminta bantuan untuk urusan sekolah. Tapi seperti yang sudah-sudah, permintaan baik itu dibalas dengan ucapan yang menyakitkan.

Sekolah SD tuh nggak mahal-mahal amat, kenapa nggak kamu aja yang urus semuanya?”
Aku juga punya hidup, jangan semua nyuruh aku.”
Lagian kamu udah nikah lagi, kan suami kamu yang harus tanggung jawab.”

Setelah itu, kalimat-kalimat hinaan kembali menyerbu seperti peluru. Ia dituduh meminta-minta, dituding tidak becus mengurus anak, bahkan direndahkan sebagai ibu yang tak tahu diri.

Padahal, Rania tidak sedang meminta belas kasihan. Ia hanya menuntut tanggung jawab seorang ayah — yang di atas kertas masih tertera di akta lahir anaknya.

Lebaran kemarin, sang mantan sempat mengaku sudah mengirimkan uang lima ratus ribu rupiah untuk keperluan anak. Tapi uang itu tidak pernah sampai ke tangan Rania. Ternyata diberikan kepada adik-adiknya, disuruh membelikan baju. Tapi tak ada sepatah kata pun bahwa itu dari ayahnya. Bahkan bajunya pun kebesaran dan cepat rusak setelah dicuci.

Saat Rania mengeluh, ia malah kembali dimaki.

Kamu bukan siapa-siapa di keluarga aku.”
Kamu itu cuma mantan. Jangan banyak nuntut.”
Udah enak nggak jadi bagian dari keluarga aku.”

Sakit. Tapi Rania hanya diam. Ia memilih tidak membalas. Ia sudah tahu arah semuanya. Hanya datang saat ingin terlihat baik. Tapi menghilang saat tanggung jawab diminta.


Rania akhirnya memutuskan sesuatu dalam hati:
Ia tidak akan lagi memaksa. Ia tidak akan lagi membuka luka untuk berharap pada orang yang hanya datang untuk menyakiti. Jika ayah kandung anaknya memilih tidak peduli, maka biarlah.

Asal mereka tidak lagi mencampuri hidupnya.
Asal tidak lagi datang membawa drama dan pertengkaran.
Asal tidak lagi mengganggu ketenangannya yang mulai ia bangun susah payah.



PEREMPUAN YANG TAK DIANGGAP BAB 4

 


Bab 4: Menjaga Jarak, Menjaga Hati

Rania duduk di teras rumah kecilnya, menyaksikan senja yang perlahan memudar.
Ia sudah lama memutuskan satu hal: tidak lagi mengizinkan dirinya disakiti oleh mereka yang tidak pernah peduli.

Anaknya kini adalah pusat dunia.
Nafkah? Rania sudah memutuskan untuk tidak lagi berharap.
Dia tahu, mantan suami dan keluarganya mungkin akan terus enggan bertanggung jawab, atau bahkan membenci. Tapi itu bukan urusannya lagi.

“Kalau mereka mau main kata-kata, ya biarlah,” gumam Rania pelan.
“Yang penting aku damai. Aku kuat. Anakku bahagia, itu sudah cukup.”

Kampung itu pernah menjadi tempat yang penuh luka.
Setiap kali Rania datang, bisik-bisik, ejekan, dan kata-kata menyakitkan selalu mengikutinya.
Orang-orang kampung yang seharusnya jadi tetangga, malah jadi saksi dan pelaku kejamnya cerita yang tak pernah ia pinta.

Mereka bilang, “Jangan menjelek-jelekkan keluargamu.”
Tapi bukankah keluarga itu yang dulu suka mengejek, menghina, dan membuatnya merasa seperti asing di tanah sendiri?

Rania menghela napas dalam.
Ia sadar, tak ada gunanya memaksa diterima oleh orang-orang yang hatinya penuh prasangka dan kebencian.
Ia bukan budak dari penilaian mereka. Ia adalah ibu. Seorang perempuan yang berhak bahagia.

Hari-hari berikutnya, Rania mulai belajar hal baru:
Menjaga jarak bukan berarti putus asa, tapi sebuah bentuk cinta pada diri sendiri.

Ia mengurangi komunikasi dengan mantan suami. Hanya bicara kalau soal anak, dan sebisa mungkin singkat dan jelas.
Ia menghindari pertemuan dengan keluarga mantan, memilih untuk membangun lingkaran baru yang positif. Teman-teman yang benar-benar mendukung dan peduli.

Kadang ia merasa sedih, tapi lebih sering ia merasa lega.
Lega karena tak lagi harus mengorbankan hati untuk orang yang tidak pernah menghargainya.

Anaknya pun tumbuh dengan penuh cinta dari ayah dan ibu yang sekarang selalu hadir.
Tak ada kata-kata kasar atau sindiran di rumah mereka. Hanya ketulusan dan pengertian.

Rania tahu, perjalanan ini belum selesai.
Tapi dia sudah punya kunci utama: Ketulusan untuk diri sendiri.




Bab 5: Batas yang Tidak Bisa Lagi Dilewati

Sudah berkali-kali Rania mencoba tenang.
Sudah sering ia diam, meski disalahkan.
Sudah berulang kali ia menghindar, walau ditarik lagi ke pusaran ribut yang sama.

Mantan suaminya tak pernah benar-benar berubah.
Setiap pesan yang masuk ke ponselnya, hanya membawa satu hal:
Keributan.

Kadang dibungkus dengan topik anak, tapi selalu berakhir dengan umpatan, makian, atau sindiran yang menyayat.

“Kenapa bajunya itu?”
“Kamu ibu macam apa?”
“Kamu ngajarin anak biar jauh dari bapaknya!”

Padahal… yang Rania inginkan hanya satu:
Tenang. Hidup tanpa gangguan. Mendidik anak dengan cinta.

Tapi laki-laki itu tak pernah mengerti.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, tidak pernah benar-benar peduli.

Sampai pada suatu sore, saat telepon kembali berdering dan suaranya kembali meninggi, Rania berkata dengan suara datar namun tegas:

“Mulai hari ini, aku tidak akan membalas apa pun dari kamu kecuali menyangkut sekolah atau kesehatan anak.
Kalau kamu masih datang hanya untuk ribut dan maki, aku anggap kamu tidak ingin damai.
Dan kalau kamu masih memaksa mengganggu, aku akan minta perlindungan. Bukan untuk melawanmu, tapi untuk menjaga kesehatan mentalku sendiri.”

Hening.

Untuk pertama kalinya, suara di seberang sana terdiam.
Rania tidak berteriak. Tidak membalas hinaan. Tidak memohon.
Hanya menegaskan: batas.

Itulah hari di mana ia memutus pola lama.
Tidak lagi memberi ruang pada racun yang selalu datang dengan nama “komunikasi demi anak.”

Ia atur semua jalur komunikasi penting lewat email.
Nomor telepon utama hanya untuk keluarga yang sehat secara emosional.
Dan untuk anaknya, ia ajarkan satu prinsip:

“Kalau seseorang datang hanya untuk membuat ibumu sedih, kamu tidak perlu merasa bersalah menjauh darinya.”


Bab 6 (Ending): Menutup Pintu, Membuka Jalan Baru

Tahun berganti.
Anaknya kini masuk SD, tumbuh cerdas, hangat, dan penuh cinta.
Rania semakin tenang.
Ia kembali menulis. Menanam bunga. Membuka kelas kecil untuk anak-anak di sekitar rumah.

Sesekali ada pesan dari mantan, tapi tidak lagi mengusik.
Sebab Rania sudah tidak membuka pintu untuk ribut. Ia hanya membuka pintu untuk tanggung jawab.

Mantan suaminya akhirnya lelah sendiri.
Tanpa bahan bakar kemarahan dari Rania, ia berhenti membakar.
Tanpa panggung drama, ia kehilangan perannya.

Dan yang paling penting:
Rania tidak lagi terikat oleh kata-kata yang dulu menyakitinya.

Ia bukan lagi perempuan yang berharap dimengerti.
Ia adalah perempuan yang telah menerima satu hal:
Beberapa luka memang tidak perlu diperdebatkan lagi. Cukup dirawat, lalu dijaga agar tidak terbuka kembali.



PEREMPUAN YANG TAK DIANGGAP

 

"Perempuan yang Tidak Dianggap"

Oleh: Celly Tomokianz

Namanya Rania.
Perempuan yang dulu memilih diam saat dimaki. Yang dulu tetap menyapa dengan sopan meski hatinya koyak. Yang dulu masih berusaha menjaga tali, meski ujungnya selalu ia genggam sendiri.

Rania pernah mencintai. Pernah menikah. Pernah percaya.
Dari pernikahan itu, ia dianugerahi seorang anak laki-laki. Satu-satunya alasan ia terus bertahan di dunia yang begitu sering menyakitinya.

Setelah rumah tangga mereka retak, Rania memilih diam.
Bukan karena kalah, tapi karena ia lelah terus berteriak pada dinding yang tak pernah mau mendengar.

Ia masih menjaga komunikasi dengan keluarga mantan suaminya. Bukan untuk dirinya—tapi untuk anaknya.
"Aku ingin anakku tetap kenal siapa keluarga ayahnya," katanya.
Tulus. Selalu dari tempat yang paling tulus.

Tapi balasannya?
Ucapan manis di depan, racun di belakang.
Mereka tersenyum padanya, tapi diam-diam menjelekkan nama baiknya. Bahkan, menyusupkan kalimat-kalimat buruk ke telinga anaknya. "Ayah tirimu itu bukan orang baik."
Padahal, ayah tiri itulah yang kini bertanggung jawab, yang memenuhi semua kebutuhan anak mereka tanpa banyak bicara.

Rania hanya bisa menunduk. Menahan marah. Menelan semua kecewa.
Dan mantan suaminya?
Datang dan pergi sesuka hati. Mengirim pesan panjang, telepon berkali-kali, hanya untuk menyudutkan.
Setiap kali Rania bicara soal nafkah anak, pria itu justru memutar balik pembicaraan. Menuduh, menyalahkan, memaki.
Seolah-olah Rania minta sesuatu yang bukan haknya.

"Uang lebaran kemarin aku sudah kasih!" katanya.
Padahal Rania tak menerima satu sen pun. Rupanya, uang itu disalurkan lewat saudara, dan Rania tak pernah tahu itu berasal darinya.
Saat Rania jujur soal baju yang kebesaran dan mudah rusak, ia malah dihina.
Kamu bukan siapa-siapa di keluargaku!”
Kalimat itu seperti pisau. Tapi anehnya, Rania tidak menangis. Ia sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti itu. Hatinyapun sudah kebas.

Namun tetap saja, malam itu ia diam lama di kamar.
Menatap anaknya yang tertidur pulas, menggenggam jari kecil itu.
Ia tahu, hanya ini yang paling berharga.
Dan karena anak ini... ia tetap bertahan.

Esoknya, ia mengambil keputusan.
Bukan dengan marah.
Bukan dengan benci.
Tapi dengan sadar: ia akan berjarak.
Bukan putus silaturahmi, tapi cukup tahu tempat.
Ia tak akan memaksakan kehangatan pada orang-orang yang tak pernah menganggapnya ada.

Rania mulai belajar...
Bahwa tidak semua ketulusan akan dibalas.
Bahwa tidak semua orang tahu caranya menghargai.
Dan bahwa menjadi perempuan kuat, bukan berarti harus terus bertahan di tempat yang menyakiti.

Karena pada akhirnya, ia sadar…
Ia memang bukan siapa-siapa di mata mereka.
Tapi ia adalah segala-galanya bagi anak yang kini ia besarkan dengan cinta.



Perempuan yang Tidak Dianggap (Bab 2: Luka yang Tak Lagi Disembunyikan)

Rania berjalan pelan ke dapur, matanya masih sembab.
Ia baru saja melewati malam yang panjang—lagi. Mantan suaminya mengirim pesan-pesan bernada kasar, menyindir, menyalahkan, bahkan membentak melalui voice note.
Semua karena satu hal: Rania meminta tanggung jawab atas anak mereka.

Satu tahun sekali aja ngasih uang, itu pun kamu marah-marah?”
Bajunya jelek? Kamu tuh nggak tahu diri!”
Kamu itu siapa? Bukan siapa-siapa di keluargaku!”

Kata-kata itu terus terngiang, memukul sisi-sisi hatinya yang sudah lama patah tapi belum pernah benar-benar sembuh.

Sambil membuat sarapan untuk anaknya, Rania melihat bayangan dirinya di kaca jendela.
Ada lingkar hitam di bawah mata. Ada kerutan yang muncul lebih cepat dari seharusnya. Tapi yang paling kentara adalah… sorot lelah dalam tatapan seorang ibu yang sudah terlalu lama menahan segalanya sendiri.

Ia menoleh ke arah ruang tamu.
Di sana, suami barunya—Adnan—sedang membantu anak mereka merapikan tas.
Laki-laki itu bukan sempurna. Tapi ia hadir. Ia peduli. Ia tidak pernah memaksa anak itu menyebutnya “ayah,” tapi selalu memastikan anak itu punya sepatu yang layak, buku yang lengkap, dan peluk hangat sebelum tidur.

Rania menahan napas.
Satu sisi hatinya bersyukur, sisi lain masih dihantui oleh rasa nggak enak—karena semua kebutuhan anak ditanggung Adnan, bukan ayah kandungnya.
Dan karena itu… kadang ia merasa bersalah, meski ia tahu, itu bukan salahnya.

Sayang, kamu kenapa diam aja?” tanya Adnan tiba-tiba, memecah lamunan.

Rania tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Cuma… capek aja.”

Adnan tidak bertanya lebih jauh. Tapi seperti biasa, dia mendekat, menaruh tangan di bahu Rania. “Kamu nggak harus kuat sendirian. Aku di sini.”

Kali ini, Rania tidak tahan lagi. Ia menangis. Untuk pertama kalinya, di hadapan seseorang yang tak menghakiminya.


Bab 3: Luka dari Masa Lalu yang Tak Mau Pergi

Beberapa hari kemudian, Rania menerima kabar bahwa keluarga mantan suaminya sedang berkumpul. Anak mereka diundang.
Dan seperti biasa, mereka tidak menyampaikan undangan itu secara langsung kepada Rania, melainkan lewat grup keluarga yang bahkan kadang ia tidak tahu masih ada.

Rania mengizinkan anaknya pergi. Ia tidak ingin memutus hubungan darah. Tapi sebelum anaknya pergi, ia menatap dalam-dalam mata kecil itu.
Nak, kamu boleh main ke rumah keluarga ayahmu. Tapi kamu juga harus tahu, yang sekarang bersamamu setiap hari itu adalah aku dan ayah Adnan. Kamu harus tahu siapa yang mencintaimu dengan nyata.”

Anaknya mengangguk. Rania tak ingin menanamkan kebencian, tapi ia ingin anaknya melihat kebenaran sendiri.

Beberapa jam setelah anaknya pergi, Rania menerima pesan suara dari keluarga mantan. Isinya? Sindiran. Tuduhan. Fitnah halus yang dibuat-buat.
Dan yang paling menyakitkan: anaknya dibilang lebih bahagia kalau tidak bersama Rania dan Adnan.


Jumat, 16 Mei 2025

MENULIS ADALAH SENI JIWA

 



Menulis adalah seni,

Seni dari jiwa yang tak kasat mata.

Ia tak bersuara, tapi mampu bicara,

Lewat kata-kata yang lahir dari rasa.


Ia bisa menjelma menjadi aku,

menjadi kamu, dia, mereka—siapa pun yang ada.

Tak peduli siapa yang menulisnya,

tulisan hidup dalam siapa saja yang membacanya.


Ia meminjam wajah yang berbeda-beda,

kadang tersenyum, kadang terluka.

Kadang ia adalah anak kecil yang rindu,

kadang seorang ibu yang diam menunggu.


Tulisan bukan milik pena semata,

tapi milik jiwa yang terhubung olehnya.

Ia mengalir dari perasaan yang dalam,

menyatu dalam makna yang tak bisa ditebak terang.


Menulis adalah seni menyentuh yang tak terlihat,

menggugah yang terpendam tanpa harus menyebut nama.

Ia tak perlu dikenal atau disebut siapa,

cukup menjadi gema bagi jiwa-jiwa yang merasa.


---

 Celly Tomokianz



NEGERI PARA PENGHIANAT 7

Bab 7: Harap yang Menyala, Bukan Sekadar Cahaya Negeri ini telah berkali-kali disakiti oleh penguasanya sendiri. Diperas oleh tangan-tang...