Kamis, 29 Mei 2025

NEGERI PARA PENGHIANAT 1

 ❤️MERAWAT LUKA NEGERIKU ❤️


Penulis: Celly Tomokianz 


Indonesia. Sebuah negeri yang dianugerahi alam paling melimpah di dunia. Dari Sabang sampai Merauke, dari gunung-gunung tinggi yang menjulang hingga lautan biru yang membentang, tanah ini kaya akan sumber daya yang membuat iri banyak bangsa lain. Emas, minyak, batu bara, rempah-rempah, hutan tropis, hingga hasil laut yang tak terhitung jumlahnya.


Namun, di balik semua kemewahan alam itu, ada sebuah kenyataan pahit yang jarang diungkap dengan gamblang: negeri ini adalah negeri yang dicuri — bukan hanya oleh tangan asing yang datang dari luar, tapi oleh tangan-tangan yang seharusnya menjaga, malah menggerogoti dari dalam.


Sejak zaman dahulu, korupsi dan pengkhianatan sudah merayap masuk. Bangsa ini tak hanya dijajah secara fisik, tapi juga secara ekonomi dan moral. Penjajah luar mungkin sudah pergi, tapi penjajah versi baru dengan wajah berbeda masih bercokol di setiap sudut kekuasaan.


Dari para pemimpin yang mengkhianati rakyat demi ambisi dan kekayaan pribadi, hingga para birokrat yang menjadikan jabatan sebagai ladang mengumpulkan harta secara ilegal — semuanya membangun tembok ketidakadilan yang semakin tebal.


---


Bayangkan seorang petani di pedalaman yang menggarap sawah dengan susah payah, mengharap hasil yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Namun, sebagian besar hasil panen itu tidak sampai ke meja makan mereka. Di kota, pejabat-pejabat tinggi menikmati kemewahan yang bersumber dari potongan-potongan kecil hasil kerja keras rakyat.


Di pasar-pasar tradisional, harga kebutuhan pokok melambung tinggi karena rantai distribusi yang panjang dan praktik pungutan liar. Dana bantuan sosial yang mestinya membantu rakyat miskin, malah dinikmati segelintir orang yang rakus. Pembangunan infrastruktur yang megah, seolah-olah untuk rakyat, justru berujung pada proyek-proyek fiktif yang menggelontorkan uang tanpa manfaat nyata.


Korupsi telah menjadi kanker yang membusukkan tubuh bangsa ini. Ia menyelinap di balik senyum ramah dan janji manis pemimpin, bersembunyi di balik tumpukan dokumen dan meja-meja rapat, lalu merampas masa depan jutaan orang yang berharap pada keadilan dan perubahan.


---


Negeri ini kaya, tapi rakyatnya sering kelaparan; berlimpah sumber daya, tapi kemiskinan tetap mengakar. Kesenjangan sosial membentang lebar seperti jurang, memperlihatkan betapa ketidakadilan sudah menjadi bagian dari sistem.


Namun, ada harapan di tengah kegelapan. Kesadaran perlahan mulai tumbuh. Rakyat mulai membuka mata dan menuntut perubahan. Mereka tahu, jika akar korupsi tidak dicabut, maka semua janji kemerdekaan hanyalah kata-kata kosong.


## Fakta Sejarah: Jejak Korupsi dari Masa ke Masa


### Zaman Kerajaan dan Penjajahan


Korupsi bukan masalah baru di Indonesia. Bahkan sebelum penjajahan Belanda, berbagai kerajaan Nusantara sudah mengenal praktik suap, nepotisme, dan pengkhianatan demi mempertahankan kekuasaan dan kekayaan. Misalnya, beberapa raja dan bangsawan kerap membebani rakyat dengan pajak dan upeti yang berat.


Saat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) datang, mereka tak hanya menjajah secara militer, tapi juga menguasai ekonomi lewat monopoli rempah-rempah. Dalam praktiknya, ada pejabat lokal yang bekerja sama dengan VOC demi keuntungan pribadi, mengkhianati rakyatnya sendiri.


### Masa Penjajahan Belanda


Belanda menerapkan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) yang memaksa rakyat menanam komoditas ekspor seperti kopi dan tebu. Meski demikian, ada catatan bahwa sistem ini disertai praktik korupsi oleh para pegawai Belanda dan pribumi, yang mengorbankan petani dan buruh demi keuntungan pribadi.


Banyak pejabat Belanda dan pribumi yang memanfaatkan posisi mereka untuk memungut pajak berlebihan atau menjual hasil bumi tanpa memberi keuntungan yang adil bagi rakyat.


### Era Kemerdekaan dan Masa Soekarno


Setelah kemerdekaan, bangsa ini berusaha membangun negara yang bebas dari penjajahan. Namun, tantangan besar datang dari dalam. Korupsi mulai muncul dalam berbagai bentuk, meski Soekarno berusaha keras memerangi praktik tersebut.


Pada masa Soekarno, lembaga seperti Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dibentuk untuk mengadili kasus korupsi dan kolusi. Sayangnya, sistem hukum yang belum matang dan ketidakstabilan politik membuat upaya ini kurang efektif.


### Masa Orde Baru


Di bawah rezim Soeharto, korupsi mencapai puncaknya. Kekuasaan yang terpusat pada satu orang dan kroni-kroninya membuka pintu lebar bagi praktik kolusi, nepotisme, dan korupsi sistemik.


Studi World Bank pada tahun 1990-an menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan miliaran dolar AS setiap tahun karena korupsi. Dana pembangunan dan proyek-proyek strategis banyak diselewengkan untuk memperkaya segelintir orang.


### Era Reformasi Hingga Kini


Setelah jatuhnya Orde Baru, Indonesia berusaha membenahi sistem dan memberantas korupsi lewat lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, tantangan tetap besar. Korupsi semakin canggih dan tersembunyi, menyentuh hampir semua sektor mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur.


---


### Dampak Nyata Korupsi bagi Rakyat


* Infrastruktur yang amburadul meski anggaran besar

* Pendidikan yang mahal dan berkualitas rendah

* Pelayanan kesehatan yang tidak merata

* Kemiskinan yang sulit diatasi meski sumber daya melimpah


Korupsi bukan sekadar soal uang hilang, tapi juga pengkhianatan terhadap masa depan bangsa.


---


Bersambung....




Mengupas tuntas sejarah korupsi


###

Rabu, 21 Mei 2025

CERITA TENTANG KITA



CERPEN: ALBUM NIKE ARDILLA

Karya: Celly Tomokianz

Pertama kali aku mengenalmu dan tahu siapa namamu, HATI KECILKU berbisik lirih: aku  SALUT padamu.
Tersimpan cinta di hati, namun aku terlalu gengsi untuk mengungkapkannya. CINTAKU PADAMU, hanya bisa kupeluk diam-diam.

Kaulah YANG PERTAMA membuatku memahami arti cinta. Detak jantungku berdegup kencang setiap kali berjumpa denganmu. BAYANG-BAYANGMU selalu menjelma dalam khayalku, seolah enggan pergi dari pikiranku.

Ketika kau katakan cinta padaku, aku terima cintamu. Tapi… KERAGUAN menyelinap dalam hatiku. Benarkah cintamu tulus? BERI DAKU KEPASTIAN—aku ingin yakin.

DI ANTARA PILIHAN yang ada, kaulah yang kupilih. BISIKAN CERMIN hatiku menunjuk padamu. RINDU KASIH membuncah. Aku ingin bertemu, ingin mencari BAYANG DIRIMU di sudut malamku yang sepi.

BILA CINTA MULAI BERSEMI, dan kau ciptakan lagu tentang CINTA KITA, izinkan cintaku tumbuh dan berbunga di hatimu. SUARA HATIKU berkata: kaulah CINTA PERTAMAku.

Kau NYALAKAN API KEHIDUPAN dalam cintaku. Aku tahu CERITA LAMA tentangmu. Tapi aku yakin, GARIS NASIB ini menuntunku pada WARNA CINTA KITA.

Namun ternyata… baru kusadari. Kau BUKA KARTU. Semua hanya SANDIWARA CINTA.
Kasih, cintamu yang palsu telah membuat LUKA di hatiku.
CINTAKU SUCI, sayangku murni. Tapi tak kau hargai.

Kesal hatiku menerima FAKTA ini. Kau pergi, TAKKAN KEMBALI. Hilang, larut dalam amarahku. Tapi aku yakin, DUKA PASTI BERLALU.

DI DALAM SUNYI aku termenung. Pudar sudah cinta ini. BIARLAH AKU YANG MENGALAH... namun, SANGGUPKAH AKU melupakanmu?

SURAT TERAKHIR darimu menghancurkan hatiku. PUTUSLAH SUDAH harapan cintaku.
Yang TAK MUNGKIN BERSATU, karena KAU BUKAN MILIKKU LAGI.

BIARKAN CINTAMU BERLALU, dan semestinya, JANGAN LARI DARI KENYATAAN.
Hanya karena DIA, kau tinggalkan diriku. Dan kini, TINGGALLAH DIRIKU SENDIRI.

Ke mana aku harus pergi?
Aku bagai PENGEMBARA TERASING, menyusuri jalanan yang berliku. KU HARUS MELANGKAH, berharap SEBERKAS SINAR akan menyinari hatiku yang KELAM.

KALAU AKU BISA TERBANG, ingin MERAIH REMBULAN, tapi tangan tak sampai.
DALAM BIRU HATIKU, aku hanya bisa berharap: semoga Tuhan memberiku ANUGERAH terindah dalam hidup ini.

MATAHARIKU, pancarkanlah sinarmu… agar aku bisa kembali merasakan kehangatan.
MENGAPA HARUS BERPISAH saat CINTA DI ANTARA KITA mulai bersemi?

Ingin kulupakan bayanganmu. Ingin kulepaskan diriku dari BELENGGU CINTAmu.
BAYANG-BAYANG HITAM yang menghantui, kuanggap hanya mimpi di siang hari.
UNTUK APA LAGI kupaksakan cinta PUTIH ini… jika ternyata,
KAU BUKAN UNTUKKU.



Selasa, 20 Mei 2025

CUKUP SUDAH


oleh: Celly Tomokianz

Aku telah diam, menahan luka yang dalam,
Memberi kesempatan, membuka pintu harapan.
Namun yang datang hanya dusta dan fitnah,
Menggores hati, meninggalkan luka yang parah.

Anakku dijadikan alat, dihujani doktrin palsu,
Ayah tirinya yang tulus, difitnah tanpa ragu.
Mereka berpura manis di hadapan,
Namun menusuk dari belakang, tanpa perasaan.

Tak ada lagi ruang untuk kebohongan,
Tak ada lagi tempat untuk pengkhianatan.
Cukup sudah, aku memilih menutup pintu,
Demi ketenangan, demi masa depan yang baru.



Senin, 19 Mei 2025

JENDELA TANPA SAPAAN



"Jendela Tanpa Sapaan"



Puisi tentang Bintang dan Indra yang tak lagi bersapa


By : Celly Tomokianz

Kita tak pernah benar-benar berpisah,
hanya berhenti bicara…
seperti surat yang tak jadi dikirim,
atau lagu yang berhenti di tengah bait indah.

Kita berteman di layar,
tapi tak pernah menyapa.
Dua sisi jendela yang sama,
tapi selalu tertutup tirainya.

Aku tak tahu seperti apa senyummu sekarang,
dan aku?
Masih di sini—
diam, tapi tidak menunggu.

Mungkin inilah caranya semesta menjaga kita:
dengan tidak membiarkan kita saling melihat,
agar tak ada hati yang kembali luka.

Bukan karena aku belum ikhlas,
tapi karena kenangan sepertimu
tak pernah benar-benar bisa dilupakan.

Maka, kubiarkan kau hidup di rak kenanganku,
bukan untuk kusentuh…
tapi untuk kuterima:
bahwa kita pernah ada—dan tak akan pernah kembali.


Telepon yang Tak Pernah Selesai

Ada suara dari masa lalu,
datang melalui sambungan telepon yang ragu-ragu.
Katanya ingin bicara,
tapi tak jelas ingin apa.

Kupilih jujur,
menjabarkan luka yang pernah kubalut sendiri,
mengurai simpul yang tak pernah dia pahami,
menjawab pertanyaan yang seharusnya bukan untukku lagi.

Tapi, kenapa kau diam di akhir?
Tak ada “terima kasih”,
tak ada “selamat tinggal”…
hanya keheningan yang diputus seperti sinyal.

Haruskah aku marah?
Tidak.
Aku hanya merasa…
lelah jadi jawaban untuk orang yang datang karena penasaran, bukan karena peduli.

Biarlah,
kalau memang harus selesai begini,
aku ikhlaskan telepon itu
sebagai akhir dari bab yang memang tidak perlu dibuka lagi.




"Aku Sudah Bicara"


oleh: Celly Tomokianz

Aku sudah diam, bertahun-tahun,
menyimpan luka, menahan dendam.
Kupikir cukup kutelan sendiri,
tanpa perlu dunia ikut mengerti.

Tapi hari ini aku bicara—
tentang janji yang tak ditepati,
tentang anak yang tak dinafkahi,
tentang luka yang kalian beri lalu pura-pura tak tahu diri.

Kalian datang,
mencari-cari kesalahan dari tempat yang telah kutinggalkan.
Kalian bertanya, lalu pergi,
tanpa pamit, tanpa empati,
seolah-olah aku hanya angin yang tak perlu dipahami.

Aku sudah bicara,
bukan untuk menyakiti,
tapi agar kalian berhenti menyakiti.

Kalau setelah ini kalian tetap tak mau dengar,
silakan.
Tapi jangan pernah bilang aku tak pernah menjelaskan.


Minggu, 18 Mei 2025

SURAT UNTUK DIA



Untukmu, yang selalu datang dengan amarah,
Seolah aku adalah sebab dari luka-lukamu
Seolah aku masih harus menunduk
Padahal aku sudah terlalu sering kau injak diam-diam.

Kau datang lagi—dengan kata-kata tajam
Yang tak kupinta, tak kunanti,
Tapi selalu kau lemparkan seolah aku papan sasaran
Padahal yang aku lakukan hanya… bertahan.

Aku tidak ingin membalas,
Bukan karena aku kalah,
Tapi karena aku tidak ingin menjadi
Apa yang telah mengubahmu jadi seperti itu.

Kini, aku hanya menjauh
Bukan untuk membuatmu kalah,
Tapi untuk membuat diriku tenang
Dan anak kita—tak tumbuh dalam badai kata.

Jangan salah artikan diamku
Bukan karena aku tidak bisa berbicara
Tapi karena aku sudah terlalu sering bicara
Dan kau memilih untuk tetap tidak mendengar.

Jadi kali ini,
Aku memilih menjadi sunyi
Yang tidak lagi menyebut-nyebut namamu
Bahkan dalam tangis yang aku tahan diam-diam.

Cukup sampai sini.
Tak perlu lagi kau mengetuk ruang yang sudah aku kunci
Sebab kini, pintu itu bukan lagi tempatmu kembali—
Melainkan tempatku sembuh… perlahan, meski sendiri.



Ditulis oleh:
Celly Tomokianz

🕊️

DIAMKU BUKAN UNTUKMU


Jangan datang padaku membawa pertanyaan,
sedang kau tinggalkan aku bersama beban yang tak kau pikul.
Jangan ajukan klarifikasi,
jika yang kau cari hanyalah pembenaran untuk lari dari tanggung jawab.

Aku bukan tempat menampung limbah dari luka yang kau ciptakan sendiri.
Aku bukan penghapus dosa yang kau ulang-ulang tanpa penyesalan.

Diamku bukan tanda rindu,
tapi pilihan untuk tidak lagi menjatuhkan harga diriku
demi mendengar alasan yang tak pernah berubah.

Dan jika kau pikir aku akan kembali meratap
pada kenangan yang kau injak tanpa rasa bersalah,
ketahuilah: aku sudah berdamai dengan sunyi yang tak menyebut-nyebut namamu lagi.

— Celly Tomokianz 🖤


SUARA YANG TAK DIANGGAP 3



Penulis: Celly Tomokianz

(Bagian 3 – “Insiden yang Membuka Mata”)

Hari itu aula sekolah penuh sesak. Anak-anak duduk berbaris, bersiap tampil dalam pentas seni yang selama ini diributkan. Ibu-ibu bergaya berlalu-lalang, sibuk dengan kamera ponsel, merapikan make-up anak, mengatur baju agar tetap tampak mewah di layar sosial media.

Tiba giliran anak laki-laki Anisa tampil—sederhana, polos, tapi penuh semangat. Saat ia selesai menari, ia melihat ke arah ibunya di pojok aula, lalu melambaikan tangan dengan bangga. Anisa tersenyum, menahan haru. Meski tak seheboh anak-anak lain, tapi itu tulisan cinta paling jujur antara ibu dan anak.

Tak lama setelah itu, kericuhan kecil terjadi.

Salah satu ibu berteriak karena kostum anaknya terkena noda dari make-up anak lain. Lalu terjadi adu mulut, disaksikan anak-anak. Suasana pentas seni berubah jadi tegang. Beberapa guru panik, acara sempat dihentikan.

“Lihat kan, Bu... ini yang saya takutkan dari awal,” ucap Anisa perlahan, mendekati salah satu guru.

Beberapa orang tua yang awalnya diam mulai saling memandang. Mulai muncul bisikan:

“Benar juga ya kata Bu Anisa selama ini.”
“Acara seperti ini kok malah bikin ribut.”
“Harusnya sekolah lebih tegas, batasi gaya-gayaan yang nggak penting begitu.”

Esok harinya, grup WhatsApp wali murid ramai. Tapi kali ini bukan menyindir Anisa, justru banyak yang menyuarakan keinginan perubahan.

“Kami dukung sekolah buat acara yang sederhana tapi bermakna.”
“Kalau bisa mulai tahun depan, tanpa kostum mahal, tanpa EO, cukup kreatifitas anak dan guru.”
“Setuju kebijakan seperti yang sering disuarakan Pak Dedi Mulyadi... pendidikan harus kembali ke akarnya.”

Kepala sekolah akhirnya mengirimkan pengumuman resmi:

“Mulai semester depan, seluruh acara sekolah akan disesuaikan dengan nilai kesederhanaan, partisipatif, dan berfokus pada anak, bukan pada kompetisi gaya antarorang tua.”

Anisa membaca pengumuman itu sambil memeluk anaknya.

“Akhirnya, suara yang tak dianggap... mulai terdengar.”


 Ternyata tak semua diam.

Beberapa memang hanya menunggu satu suara pertama...
dan semoga setelah ini,
pendidikan kembali pada esensinya:
bukan tentang siapa yang terlihat paling mewah,
tapi siapa yang benar-benar peduli.”

Bersambung....

SUARA YANG TAK DIANGGAP 2

Penulis : Celly Tomokianz


(Bagian 2 – “Gaya Istri, Luka Suami”)

Minggu pagi di warung kopi dekat sekolah. Tiga orang ayah duduk membicarakan pentas seni yang akan digelar bulan depan. Sambil menyeruput kopi hitam dan menghembuskan napas lelah, mereka berbincang dalam nada rendah—takut terdengar, tapi terlalu sesak untuk disimpan.

Istriku minta duit buat beli gaun baru. Katanya biar matching sama ibu-ibu lain pas pentas seni nanti,” ucap seorang pria berkaos oblong, wajahnya kusut.
Aku udah kerja dari pagi sampai malam, tapi tetap saja kurang. Kadang pengin kabur aja dari semua ini.”

Yang lain menimpali:

Aku malah dipaksa cicil tas branded. Katanya biar nggak malu waktu rapat sekolah. Astaga... padahal anak kita cuma nari 5 menit di panggung kecil.”

Tertawa hampa mengisi meja kecil itu. Mereka bukan lelaki lemah, bukan pula tak sayang keluarga. Tapi gaya hidup istri-istri mereka yang ikut-ikutan bersaing di sekolah, membuat mereka kehabisan napas.

Sementara itu, di rumah kontrakannya yang sederhana, Anisa sedang menjahit pita kecil untuk kostum anaknya yang akan tampil. Ia tak minta sumbangan, tak beli baru, hanya memanfaatkan sisa kain dari tahun lalu.

Nisa, kamu ikut bantu rapat dekorasi nggak besok?” tanya tetangganya lewat pesan.

Anisa menjawab, Kalau untuk dekor panggung anak-anak, insya Allah. Tapi kalau rapatnya cuma isinya debat soal model baju dan EO, aku izin ya, Mbak...”

Jawabannya singkat, tapi bagi yang mengerti, itu bentuk luka dan perlawanan kecil.

Hari demi hari, nama Anisa makin terdengar asing di antara grup-grup WhatsApp sekolah. Ia sering tidak dilibatkan, tidak disapa. Tapi diam-diam, ada beberapa ibu lain yang mulai mengagumi sikapnya. Mereka yang juga sesak, tapi belum cukup berani untuk bersuara seperti Anisa.

Dan tanpa mereka sadari, Anisa sedang menjadi suara dari banyak orang yang diam.

Kalau semua diam karena takut tidak diterima,
maka sistem yang salah akan terus berjalan,
dan anak-anak kita... yang akan jadi korban.”


Bersambung


Lanjut part 3👉🏻👉🏻👉🏻

SUARA YANG TAK DIANGGAP

Penulis : Celly Tomokianz


*(Bagian 1 – “Sekolah atau Panggung Gaya?”)*


Namanya **Anisa**, ibu tunggal dari seorang anak laki-laki kelas dua SD. Sejak pagi, ia sudah bangun lebih awal—menyiapkan sarapan, bekal, lalu mengantar anaknya dengan motor tuanya yang sering mogok. Tapi hari ini bukan sekadar hari antar-jemput biasa, hari ini ada rapat sekolah.


Di aula, Anisa duduk paling belakang. Ia bukan pemalu, bukan pula penakut, tapi ia tahu... **keberadaannya jarang dianggap**. Ibu-ibu lain sudah lebih dulu datang dengan tas bermerek, baju modis, sepatu berkilau. Beberapa bahkan sibuk selfie sebelum rapat dimulai.


Saat kepala sekolah berbicara soal kegiatan pentas seni, seorang ibu menyela:


 “Kita bikin seragam baru ya Bu, yang bahannya bagus, dan jangan lupa make-up-nya profesional. Kalau bisa panggil EO, biar megah sekalian...”


Anisa mengangkat tangan.

“Maaf, Bu... Kalau acaranya fokus ke anak-anak, mungkin cukup sederhana saja. Yang penting anak senang dan tidak membebani orang tua.”


Ruangan langsung hening.

Beberapa ibu melirik dari ujung mata. Ada yang tersenyum sinis. Seorang ibu berbisik pada temannya, cukup keras untuk didengar:


 “Aduh, ini lagi yang ngomong. Udah tau nggak mampu, tapi rewel aja.”

Anisa tersenyum pahit. Sudah sering ia diperlakukan seperti itu.

Ia menunduk, menahan air mata. Bukan karena malu, tapi karena lelah.

"Kalau semua sudah ditentukan, untuk apa dimusyawarahkan?"
Pertanyaan itu tak pernah dijawab. Hanya dibalas dengan senyuman hambar dan pandangan yang menghakimi.

Suatu hari, Anisa mencoba bicara tentang kebijakan sekolah yang menyulitkan. Ia tidak marah, tidak kasar—hanya ingin didengar. Tapi hasilnya? Ia dicap sebagai pengacau. Ada yang berkata di belakang, “Sok pintar.” Ada yang menghindar, seolah ucapannya membawa racun.

Padahal, ia hanya ingin kebaikan untuk anak-anak, bukan panggung untuk dirinya.

Lelah karena **sekolah sekarang bukan lagi tempat belajar**, tapi sudah jadi **tempat pamer dan bersaing antarorang tua**.


 “Kata Pak Dedi itu gaya elit, ekonomi sulit,” gumamnya dalam hati, mengingat satu-satunya pejabat yang ia rasa benar-benar paham isi hati rakyat kecil.


Saat rapat selesai, Anisa berjalan pulang sendirian. Tidak ada yang menyapanya. Tapi ia tidak menyesal. Ia hanya ingin anak-anak bisa sekolah dengan damai. Tanpa harus menjadi ajang eksistensi orang tua. Tanpa harus membuat yang miskin merasa asing di tempat yang seharusnya menjadi rumah ilmu.


 “Kembalikan dunia pendidikan seperti dulu...” katanya dalam hati.

 “Di mana guru mengajar, murid belajar, dan orang tua percaya.”

 “Bukan ikut campur, bukan ikut gaya, bukan ikut membuat gaduh.”


---


Bersambung.... 



Sabtu, 17 Mei 2025

SENANDUNG HATI IBU



Senandung Hati Ibu

Di balik senyum yang kusambut tiap pagi,
tersembunyi letih yang tak pernah tumpah.
Dalam bisu langkahku yang sabar,
terdengar doa tanpa suara untuk masa depan yang sederhana.

Kupu-kupu kecilku menari di taman mimpi,
tak ingin kusulam beban yang berat pada sayapnya.
Namun gelombang dunia kadang deras menyapa,
membawa arus yang mencoba menyeretku jauh.

Aku hanyalah sebuah pelita kecil,
berusaha memberi cahaya tanpa padam,
meski angin dan hujan mencoba meredupkannya.
Aku ingin damai, bukan perang tanpa kemenangan.

Jika suara ini terlalu lembut untuk didengar,
aku akan tetap bernyanyi dalam diam,
menguatkan hati yang rapuh,
menjaga bunga kecil ini tetap mekar.

Tak semua jalan yang aku tempuh mudah,
ada duri yang tersembunyi di balik bunga.
Namun aku berjalan, tak gentar,
karena cinta adalah pelindung dan penggerakku.

Mereka mungkin tak selalu mengerti,
tapi aku percaya waktu yang akan bicara.
Suatu hari, kupu-kupu kecilku akan terbang tinggi,
bebas dari bayang yang selama ini membayangi.

Jadi aku terus bertahan, terus berharap,
karena ibu adalah pelita, penabur harapan.
Dalam sunyi, aku tetap berdiri,
menjaga mimpi, menjaga hati yang penuh cinta.



NEGERI PARA PENGHIANAT 7

Bab 7: Harap yang Menyala, Bukan Sekadar Cahaya Negeri ini telah berkali-kali disakiti oleh penguasanya sendiri. Diperas oleh tangan-tang...