Sabtu, 17 Mei 2025

PEREMPUAN YANG TAK DIANGGAP (ENDING)

 

Bab 7: Tentang Sebuah Sekolah dan Perjuangan Seorang Ibu

Hari-hari menjelang kelulusan anak semata wayangnya dari Taman Kanak-Kanak terasa campur aduk bagi Rania. Harusnya ia bahagia, bangga, dan tenang menyambut fase baru sang anak yang akan melanjutkan ke Sekolah Dasar. Tapi semua tidak semudah itu.

Satu per satu kebutuhan mulai berdatangan: formulir pendaftaran, seragam, perlengkapan belajar, biaya administrasi. Rania sudah menyiapkan sedikit demi sedikit dari hasil kerja dan bantu suaminya yang sekarang. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu: ini adalah tanggung jawab bersama — termasuk ayah kandung anaknya.

Rania memberanikan diri menghubungi mantan suaminya, meminta bantuan untuk urusan sekolah. Tapi seperti yang sudah-sudah, permintaan baik itu dibalas dengan ucapan yang menyakitkan.

Sekolah SD tuh nggak mahal-mahal amat, kenapa nggak kamu aja yang urus semuanya?”
Aku juga punya hidup, jangan semua nyuruh aku.”
Lagian kamu udah nikah lagi, kan suami kamu yang harus tanggung jawab.”

Setelah itu, kalimat-kalimat hinaan kembali menyerbu seperti peluru. Ia dituduh meminta-minta, dituding tidak becus mengurus anak, bahkan direndahkan sebagai ibu yang tak tahu diri.

Padahal, Rania tidak sedang meminta belas kasihan. Ia hanya menuntut tanggung jawab seorang ayah — yang di atas kertas masih tertera di akta lahir anaknya.

Lebaran kemarin, sang mantan sempat mengaku sudah mengirimkan uang lima ratus ribu rupiah untuk keperluan anak. Tapi uang itu tidak pernah sampai ke tangan Rania. Ternyata diberikan kepada adik-adiknya, disuruh membelikan baju. Tapi tak ada sepatah kata pun bahwa itu dari ayahnya. Bahkan bajunya pun kebesaran dan cepat rusak setelah dicuci.

Saat Rania mengeluh, ia malah kembali dimaki.

Kamu bukan siapa-siapa di keluarga aku.”
Kamu itu cuma mantan. Jangan banyak nuntut.”
Udah enak nggak jadi bagian dari keluarga aku.”

Sakit. Tapi Rania hanya diam. Ia memilih tidak membalas. Ia sudah tahu arah semuanya. Hanya datang saat ingin terlihat baik. Tapi menghilang saat tanggung jawab diminta.


Rania akhirnya memutuskan sesuatu dalam hati:
Ia tidak akan lagi memaksa. Ia tidak akan lagi membuka luka untuk berharap pada orang yang hanya datang untuk menyakiti. Jika ayah kandung anaknya memilih tidak peduli, maka biarlah.

Asal mereka tidak lagi mencampuri hidupnya.
Asal tidak lagi datang membawa drama dan pertengkaran.
Asal tidak lagi mengganggu ketenangannya yang mulai ia bangun susah payah.



PEREMPUAN YANG TAK DIANGGAP BAB 4

 


Bab 4: Menjaga Jarak, Menjaga Hati

Rania duduk di teras rumah kecilnya, menyaksikan senja yang perlahan memudar.
Ia sudah lama memutuskan satu hal: tidak lagi mengizinkan dirinya disakiti oleh mereka yang tidak pernah peduli.

Anaknya kini adalah pusat dunia.
Nafkah? Rania sudah memutuskan untuk tidak lagi berharap.
Dia tahu, mantan suami dan keluarganya mungkin akan terus enggan bertanggung jawab, atau bahkan membenci. Tapi itu bukan urusannya lagi.

“Kalau mereka mau main kata-kata, ya biarlah,” gumam Rania pelan.
“Yang penting aku damai. Aku kuat. Anakku bahagia, itu sudah cukup.”

Kampung itu pernah menjadi tempat yang penuh luka.
Setiap kali Rania datang, bisik-bisik, ejekan, dan kata-kata menyakitkan selalu mengikutinya.
Orang-orang kampung yang seharusnya jadi tetangga, malah jadi saksi dan pelaku kejamnya cerita yang tak pernah ia pinta.

Mereka bilang, “Jangan menjelek-jelekkan keluargamu.”
Tapi bukankah keluarga itu yang dulu suka mengejek, menghina, dan membuatnya merasa seperti asing di tanah sendiri?

Rania menghela napas dalam.
Ia sadar, tak ada gunanya memaksa diterima oleh orang-orang yang hatinya penuh prasangka dan kebencian.
Ia bukan budak dari penilaian mereka. Ia adalah ibu. Seorang perempuan yang berhak bahagia.

Hari-hari berikutnya, Rania mulai belajar hal baru:
Menjaga jarak bukan berarti putus asa, tapi sebuah bentuk cinta pada diri sendiri.

Ia mengurangi komunikasi dengan mantan suami. Hanya bicara kalau soal anak, dan sebisa mungkin singkat dan jelas.
Ia menghindari pertemuan dengan keluarga mantan, memilih untuk membangun lingkaran baru yang positif. Teman-teman yang benar-benar mendukung dan peduli.

Kadang ia merasa sedih, tapi lebih sering ia merasa lega.
Lega karena tak lagi harus mengorbankan hati untuk orang yang tidak pernah menghargainya.

Anaknya pun tumbuh dengan penuh cinta dari ayah dan ibu yang sekarang selalu hadir.
Tak ada kata-kata kasar atau sindiran di rumah mereka. Hanya ketulusan dan pengertian.

Rania tahu, perjalanan ini belum selesai.
Tapi dia sudah punya kunci utama: Ketulusan untuk diri sendiri.




Bab 5: Batas yang Tidak Bisa Lagi Dilewati

Sudah berkali-kali Rania mencoba tenang.
Sudah sering ia diam, meski disalahkan.
Sudah berulang kali ia menghindar, walau ditarik lagi ke pusaran ribut yang sama.

Mantan suaminya tak pernah benar-benar berubah.
Setiap pesan yang masuk ke ponselnya, hanya membawa satu hal:
Keributan.

Kadang dibungkus dengan topik anak, tapi selalu berakhir dengan umpatan, makian, atau sindiran yang menyayat.

“Kenapa bajunya itu?”
“Kamu ibu macam apa?”
“Kamu ngajarin anak biar jauh dari bapaknya!”

Padahal… yang Rania inginkan hanya satu:
Tenang. Hidup tanpa gangguan. Mendidik anak dengan cinta.

Tapi laki-laki itu tak pernah mengerti.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, tidak pernah benar-benar peduli.

Sampai pada suatu sore, saat telepon kembali berdering dan suaranya kembali meninggi, Rania berkata dengan suara datar namun tegas:

“Mulai hari ini, aku tidak akan membalas apa pun dari kamu kecuali menyangkut sekolah atau kesehatan anak.
Kalau kamu masih datang hanya untuk ribut dan maki, aku anggap kamu tidak ingin damai.
Dan kalau kamu masih memaksa mengganggu, aku akan minta perlindungan. Bukan untuk melawanmu, tapi untuk menjaga kesehatan mentalku sendiri.”

Hening.

Untuk pertama kalinya, suara di seberang sana terdiam.
Rania tidak berteriak. Tidak membalas hinaan. Tidak memohon.
Hanya menegaskan: batas.

Itulah hari di mana ia memutus pola lama.
Tidak lagi memberi ruang pada racun yang selalu datang dengan nama “komunikasi demi anak.”

Ia atur semua jalur komunikasi penting lewat email.
Nomor telepon utama hanya untuk keluarga yang sehat secara emosional.
Dan untuk anaknya, ia ajarkan satu prinsip:

“Kalau seseorang datang hanya untuk membuat ibumu sedih, kamu tidak perlu merasa bersalah menjauh darinya.”


Bab 6 (Ending): Menutup Pintu, Membuka Jalan Baru

Tahun berganti.
Anaknya kini masuk SD, tumbuh cerdas, hangat, dan penuh cinta.
Rania semakin tenang.
Ia kembali menulis. Menanam bunga. Membuka kelas kecil untuk anak-anak di sekitar rumah.

Sesekali ada pesan dari mantan, tapi tidak lagi mengusik.
Sebab Rania sudah tidak membuka pintu untuk ribut. Ia hanya membuka pintu untuk tanggung jawab.

Mantan suaminya akhirnya lelah sendiri.
Tanpa bahan bakar kemarahan dari Rania, ia berhenti membakar.
Tanpa panggung drama, ia kehilangan perannya.

Dan yang paling penting:
Rania tidak lagi terikat oleh kata-kata yang dulu menyakitinya.

Ia bukan lagi perempuan yang berharap dimengerti.
Ia adalah perempuan yang telah menerima satu hal:
Beberapa luka memang tidak perlu diperdebatkan lagi. Cukup dirawat, lalu dijaga agar tidak terbuka kembali.



PEREMPUAN YANG TAK DIANGGAP

 

"Perempuan yang Tidak Dianggap"

Oleh: Celly Tomokianz

Namanya Rania.
Perempuan yang dulu memilih diam saat dimaki. Yang dulu tetap menyapa dengan sopan meski hatinya koyak. Yang dulu masih berusaha menjaga tali, meski ujungnya selalu ia genggam sendiri.

Rania pernah mencintai. Pernah menikah. Pernah percaya.
Dari pernikahan itu, ia dianugerahi seorang anak laki-laki. Satu-satunya alasan ia terus bertahan di dunia yang begitu sering menyakitinya.

Setelah rumah tangga mereka retak, Rania memilih diam.
Bukan karena kalah, tapi karena ia lelah terus berteriak pada dinding yang tak pernah mau mendengar.

Ia masih menjaga komunikasi dengan keluarga mantan suaminya. Bukan untuk dirinya—tapi untuk anaknya.
"Aku ingin anakku tetap kenal siapa keluarga ayahnya," katanya.
Tulus. Selalu dari tempat yang paling tulus.

Tapi balasannya?
Ucapan manis di depan, racun di belakang.
Mereka tersenyum padanya, tapi diam-diam menjelekkan nama baiknya. Bahkan, menyusupkan kalimat-kalimat buruk ke telinga anaknya. "Ayah tirimu itu bukan orang baik."
Padahal, ayah tiri itulah yang kini bertanggung jawab, yang memenuhi semua kebutuhan anak mereka tanpa banyak bicara.

Rania hanya bisa menunduk. Menahan marah. Menelan semua kecewa.
Dan mantan suaminya?
Datang dan pergi sesuka hati. Mengirim pesan panjang, telepon berkali-kali, hanya untuk menyudutkan.
Setiap kali Rania bicara soal nafkah anak, pria itu justru memutar balik pembicaraan. Menuduh, menyalahkan, memaki.
Seolah-olah Rania minta sesuatu yang bukan haknya.

"Uang lebaran kemarin aku sudah kasih!" katanya.
Padahal Rania tak menerima satu sen pun. Rupanya, uang itu disalurkan lewat saudara, dan Rania tak pernah tahu itu berasal darinya.
Saat Rania jujur soal baju yang kebesaran dan mudah rusak, ia malah dihina.
Kamu bukan siapa-siapa di keluargaku!”
Kalimat itu seperti pisau. Tapi anehnya, Rania tidak menangis. Ia sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti itu. Hatinyapun sudah kebas.

Namun tetap saja, malam itu ia diam lama di kamar.
Menatap anaknya yang tertidur pulas, menggenggam jari kecil itu.
Ia tahu, hanya ini yang paling berharga.
Dan karena anak ini... ia tetap bertahan.

Esoknya, ia mengambil keputusan.
Bukan dengan marah.
Bukan dengan benci.
Tapi dengan sadar: ia akan berjarak.
Bukan putus silaturahmi, tapi cukup tahu tempat.
Ia tak akan memaksakan kehangatan pada orang-orang yang tak pernah menganggapnya ada.

Rania mulai belajar...
Bahwa tidak semua ketulusan akan dibalas.
Bahwa tidak semua orang tahu caranya menghargai.
Dan bahwa menjadi perempuan kuat, bukan berarti harus terus bertahan di tempat yang menyakiti.

Karena pada akhirnya, ia sadar…
Ia memang bukan siapa-siapa di mata mereka.
Tapi ia adalah segala-galanya bagi anak yang kini ia besarkan dengan cinta.



Perempuan yang Tidak Dianggap (Bab 2: Luka yang Tak Lagi Disembunyikan)

Rania berjalan pelan ke dapur, matanya masih sembab.
Ia baru saja melewati malam yang panjang—lagi. Mantan suaminya mengirim pesan-pesan bernada kasar, menyindir, menyalahkan, bahkan membentak melalui voice note.
Semua karena satu hal: Rania meminta tanggung jawab atas anak mereka.

Satu tahun sekali aja ngasih uang, itu pun kamu marah-marah?”
Bajunya jelek? Kamu tuh nggak tahu diri!”
Kamu itu siapa? Bukan siapa-siapa di keluargaku!”

Kata-kata itu terus terngiang, memukul sisi-sisi hatinya yang sudah lama patah tapi belum pernah benar-benar sembuh.

Sambil membuat sarapan untuk anaknya, Rania melihat bayangan dirinya di kaca jendela.
Ada lingkar hitam di bawah mata. Ada kerutan yang muncul lebih cepat dari seharusnya. Tapi yang paling kentara adalah… sorot lelah dalam tatapan seorang ibu yang sudah terlalu lama menahan segalanya sendiri.

Ia menoleh ke arah ruang tamu.
Di sana, suami barunya—Adnan—sedang membantu anak mereka merapikan tas.
Laki-laki itu bukan sempurna. Tapi ia hadir. Ia peduli. Ia tidak pernah memaksa anak itu menyebutnya “ayah,” tapi selalu memastikan anak itu punya sepatu yang layak, buku yang lengkap, dan peluk hangat sebelum tidur.

Rania menahan napas.
Satu sisi hatinya bersyukur, sisi lain masih dihantui oleh rasa nggak enak—karena semua kebutuhan anak ditanggung Adnan, bukan ayah kandungnya.
Dan karena itu… kadang ia merasa bersalah, meski ia tahu, itu bukan salahnya.

Sayang, kamu kenapa diam aja?” tanya Adnan tiba-tiba, memecah lamunan.

Rania tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Cuma… capek aja.”

Adnan tidak bertanya lebih jauh. Tapi seperti biasa, dia mendekat, menaruh tangan di bahu Rania. “Kamu nggak harus kuat sendirian. Aku di sini.”

Kali ini, Rania tidak tahan lagi. Ia menangis. Untuk pertama kalinya, di hadapan seseorang yang tak menghakiminya.


Bab 3: Luka dari Masa Lalu yang Tak Mau Pergi

Beberapa hari kemudian, Rania menerima kabar bahwa keluarga mantan suaminya sedang berkumpul. Anak mereka diundang.
Dan seperti biasa, mereka tidak menyampaikan undangan itu secara langsung kepada Rania, melainkan lewat grup keluarga yang bahkan kadang ia tidak tahu masih ada.

Rania mengizinkan anaknya pergi. Ia tidak ingin memutus hubungan darah. Tapi sebelum anaknya pergi, ia menatap dalam-dalam mata kecil itu.
Nak, kamu boleh main ke rumah keluarga ayahmu. Tapi kamu juga harus tahu, yang sekarang bersamamu setiap hari itu adalah aku dan ayah Adnan. Kamu harus tahu siapa yang mencintaimu dengan nyata.”

Anaknya mengangguk. Rania tak ingin menanamkan kebencian, tapi ia ingin anaknya melihat kebenaran sendiri.

Beberapa jam setelah anaknya pergi, Rania menerima pesan suara dari keluarga mantan. Isinya? Sindiran. Tuduhan. Fitnah halus yang dibuat-buat.
Dan yang paling menyakitkan: anaknya dibilang lebih bahagia kalau tidak bersama Rania dan Adnan.


Jumat, 16 Mei 2025

MENULIS ADALAH SENI JIWA

 



Menulis adalah seni,

Seni dari jiwa yang tak kasat mata.

Ia tak bersuara, tapi mampu bicara,

Lewat kata-kata yang lahir dari rasa.


Ia bisa menjelma menjadi aku,

menjadi kamu, dia, mereka—siapa pun yang ada.

Tak peduli siapa yang menulisnya,

tulisan hidup dalam siapa saja yang membacanya.


Ia meminjam wajah yang berbeda-beda,

kadang tersenyum, kadang terluka.

Kadang ia adalah anak kecil yang rindu,

kadang seorang ibu yang diam menunggu.


Tulisan bukan milik pena semata,

tapi milik jiwa yang terhubung olehnya.

Ia mengalir dari perasaan yang dalam,

menyatu dalam makna yang tak bisa ditebak terang.


Menulis adalah seni menyentuh yang tak terlihat,

menggugah yang terpendam tanpa harus menyebut nama.

Ia tak perlu dikenal atau disebut siapa,

cukup menjadi gema bagi jiwa-jiwa yang merasa.


---

 Celly Tomokianz



Kamis, 15 Mei 2025

CINTA YANG MENYAKITIKU (RAKA)

 POV: Raka

Setelah kepergian Bintang, hidupku tak lagi sama.

Awalnya aku berpikir, semuanya akan baik-baik saja. Bahwa aku bisa kembali pada hidupku yang bebas, tanpa beban, tanpa tangis. Tapi kenyataannya... yang hilang bukan hanya istri. Aku kehilangan rumah. Tempat aku pulang. Dan lebih dari itu—aku kehilangan satu-satunya perempuan yang benar-benar tulus mencintaiku.

Bintang... dia memang selalu kuat. Tapi aku terlalu bodoh untuk menghargainya. Saat dia mengandung anakku, aku malah sibuk bermain hati dengan Ika—rekan kerjaku. Aku kira Ika akan jadi pelarian yang sempurna. Nyatanya? Dia pergi juga. Menikah dengan pria lain tanpa memberi kabar apa pun.

Aku marah. Bukan hanya pada Ika, tapi juga pada diriku sendiri. Aku merasa kalah. Dihianati. Lalu mulai mencari wanita-wanita lain yang dulu pernah ku dekati. Kukira ada yang bersedia ku nikahi, demi membuktikan bahwa aku masih punya kendali. Tapi mereka semua menolak. Mungkin karena nama burukku sudah terlalu dikenal. Atau karena mereka tahu, aku bukan pilihan yang pantas untuk dipertaruhkan.

Saat itu aku mulai merasa hampa. Tapi aku terlalu gengsi untuk kembali pada Bintang.

Sampai akhirnya, aku dijodohkan dengan putri pemilik kontrakan tempatku tinggal. Keluarganya menawarkan solusi: pernikahan yang saling menguntungkan. Dan aku... menyetujuinya. Bukan karena cinta. Tapi karena aku lelah sendiri. Karena aku butuh tempat berteduh—secara harfiah dan batin.

Namun, Tuhan punya cara sendiri menegur orang sepertiku.

Beberapa bulan setelah pernikahan itu, gempa besar mengguncang kota. Tempat tinggalku runtuh. Rumah yang dulu kubangun bersama Bintang... hancur. Seperti semua kesombonganku, ditarik habis oleh tanah yang menganga.

Di reruntuhan itu, aku hanya bisa duduk. Diam. Menatap puing. Dan satu wajah yang terus menghantui pikiranku... Bintang.

Aku sempat mencoba menghubunginya. Menanyakan kabar. Mengirim pesan. Tapi ia sudah menutup semua pintu. Tidak membenciku, tapi juga tak ingin kembali.

Waktu memang tak bisa diputar.

Kini aku berdiri dalam hidup yang berbeda. Bukan dengan cinta, tapi dengan penyesalan. Istriku yang sekarang baik, tapi aku tahu rasa ini tak akan sama. Karena Bintang... adalah kehilangan terbesar yang kusesali sepanjang hidupku.

Dan yang lebih menyakitkan,
penyesalanku datang saat pintu maaf sudah tertutup selamanya.



Rabu, 14 Mei 2025

CINTA YANG MENYAKITIKU



Karya: Celly Tomokianz


Aku pernah percaya, cinta bisa menyembuhkan segala luka. Maka aku bertahan. Aku memilih Raka—laki-laki yang pernah kubela mati-matian, meski hatiku sempat ragu. Aku memilihnya, bukan karena lupa pada Indra, tapi karena yakin... bahwa setiap orang layak diberi kesempatan untuk membuktikan cintanya.


Tapi ternyata, kesempatan itu seperti senjata yang perlahan membunuhku.


Hari-hariku setelah menikah bukan bahagia seperti dalam doa. Justru penuh luka yang diam-diam mengikis keyakinanku. Raka tak pernah benar-benar hadir. Ia sering pulang larut, membawa aroma asing yang tak bisa kusebutkan. Katanya kerja, katanya lelah. Tapi aku tahu... hatinya tak utuh bersamaku.

Setiap malam, aku mendengar suara langkahnya pulang larut.
Suara-suara telepon yang ia sembunyikan, pesan-pesan yang ia hapus dengan tergesa.
Namun, aku bukan orang bodoh.
Aku tahu ada yang tidak benar.

Aku menemukan nama Ika.
Teman sekantornya yang entah mengapa menjadi wanita yang selalu ada di teleponnya.
Awalnya aku mencoba berpikir positif—mungkin hanya rekan kerja biasa.
Tapi semakin aku menggali, semakin dalam aku tenggelam dalam kesedihan.


Aku hamil besar ketika semua ini terjadi.
Beban di tubuhku terasa ringan dibandingkan beban di hati yang terus bertambah berat.
Saat perutku membesar, Raka semakin jauh.
Ia sibuk dengan dunia lain, yang tak bisa aku sentuh atau pahami.

Malam-malam panjang kuhabiskan dalam kesendirian.
Kuterima kepedihan ini sebagai konsekuensi cinta yang dulu kubela.
Setiap kali aku ingin mengadu, suaraku tenggelam dalam diam.
Aku takut anak kami mendengar ibunya menangis.


Hatiku hancur. Tapi aku diam.


Aku tidur sendirian malam itu, menggenggam perutku yang mulai terasa berat, sambil menahan isak dalam sunyi. Aku tidak ingin anakku mendengar tangis ibunya sejak dalam rahim.


Tapi rasa sakit itu tak berhenti di sana.


Beberapa kali, aku mendengar nama-nama lain. Wajah-wajah asing yang kadang kulihat muncul di notifikasi pesannya. Kadang kubaca sekilas, kadang kubiarkan, karena hatiku sudah terlalu lelah untuk mencari tahu.

Kehadiran anak kami seharusnya menjadi titik terang,
Namun cahaya itu malah semakin menjauh.
Raka tak pernah benar-benar hadir.
Dia hanya bayang-bayang yang hilang timbul di antara janji-janji yang tak terpenuhi.

Aku bertahan, tapi aku rapuh.
Menanti kasih sayang yang tak kunjung datang.
Menanti cinta yang tak pernah tumbuh.

Setelah melahirkan, aku sadar—aku tidak bisa terus begini.

Aku hanya ingin melahirkan anakku dengan selamat. Itu saja.


Dan ketika putra kecilku lahir, aku menatapnya dengan air mata. Bukan air mata bahagia. Tapi campuran antara syukur dan perih yang tak bisa kuucapkan.


Aku menatap bayi itu, dan berkata dalam hati:


"Maafkan Mama, Nak. Dunia ini tak seindah yang Mama harapkan. Tapi Mama janji, kamu tidak akan hidup dalam kebohongan seperti ini."


Aku bertahan beberapa bulan. Menyusui dengan tubuh yang lelah, bangun malam dengan mata sembab, dan menyambut Raka yang semakin asing. Hingga akhirnya, aku menyerah. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku tahu... aku pantas mendapatkan lebih dari sekadar sakit hati.


Aku mengemasi harapanku, dan keluar dari rumah itu.

Untuk pertama kalinya, aku berjalan bukan demi cinta, tapi demi diriku sendiri.

Aku harus memilih, bukan hanya demi anak kami, tapi juga demi diriku sendiri.
Aku tak mau cinta yang seharusnya menguatkan, malah menjadi luka yang merenggut seluruh hidupku.

Aku memutuskan untuk pergi.
Dengan hati yang penuh luka, tapi dengan kepala yang tegak.
Aku memilih kebebasan dari penjara cinta yang menyakitiku.

Ini bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari perjalanan baru.
Perjalanan untuk menemukan kembali siapa aku,
dan apa arti cinta sejati yang sesungguhnya.






Pagi itu, aku bangun dengan rasa lega yang aneh.
Setelah sekian lama terperangkap dalam kebohongan dan kepedihan, aku akhirnya berani mengambil langkah yang selama ini kutakuti: pergi.

Aku merapikan sedikit barang, mengemas pakaian putraku dan beberapa milikku.
Tidak banyak, karena aku sadar—hidup baru tidak butuh beban lama.
Kuangkat anak kecil itu dalam pelukanku, melihat wajah mungilnya yang polos, tanpa dosa, tanpa beban masa lalu.

“Maafkan Mama, Nak,” bisikku lirih.
“Ini demi kita. Demi hidup yang lebih baik.”

Hari-hari pertama di tempat baru penuh dengan kebingungan dan rasa sepi.
Tempat baru, suasana baru, dan yang paling berat: tanpa Raka.
Banyak yang bertanya, mengapa aku berani mengambil keputusan ini.
Ada yang menganggapku pengecut, meninggalkan suami dan anak di tengah masalah.
Tapi aku tahu, aku justru sedang berjuang untuk anakku.

Aku mulai bekerja lagi, mencari penghasilan supaya kami bisa bertahan.
Tentu saja, bukan hal mudah bagi ibu baru yang juga masih berjuang menerima luka hati.
Setiap malam aku menangis diam-diam, membujuk diri untuk tetap kuat.

Tapi seiring waktu, aku mulai merasakan sesuatu yang lama hilang: harapan.
Aku bertemu dengan teman-teman baru, orang-orang yang tulus mendukungku.
Anakku tumbuh sehat dan ceria, menjadi sumber kekuatanku yang tak tergantikan.

Aku belajar bahwa kebahagiaan bukan tentang memiliki seseorang yang sempurna.
Tapi tentang bagaimana aku mencintai diri sendiri,
dan bagaimana aku mampu membangun kehidupan yang penuh makna, meski tanpa Raka.

Masih ada luka, tentu saja.
Tapi luka itu tidak lagi menghalangiku.
Aku tahu, aku harus tetap berdiri, tetap melangkah, demi masa depan kami.

Dan aku percaya, suatu hari nanti,
aku akan menemukan cinta yang benar-benar menguatkan, bukan yang menyakiti.


Dan aku pergi...
Dengan tubuh yang lelah, hati yang remuk, tapi jiwa yang perlahan bangkit.

Aku tak ingin anakku tumbuh dalam rumah yang penuh teriakan dan diam yang menyakitkan.
Aku tak ingin ia mengira cinta seperti itu adalah hal yang patut dipertahankan.

Mungkin aku pernah mencintai Raka dengan seluruh jiwaku.
Tapi aku lebih mencintai diriku sekarang—dan anakku—lebih dari rasa sakit itu.

Aku bangkit. Aku memilih hidup.
Dan luka ini... bukan akhirku. Tapi awal dari aku yang baru.


***
Suatu hari nanti
Kau akan melihatku berdiri tegak
Dengan kedua kakiku
Setelah kau patahkan sayap-sayapku

Aku mampu berputar tanpamu
Meraih mimpi, meski bukan untukmu
Jemariku, perang kembali
Kadang terjerat dua sisi

Termenungku, panik, aku takut
Tersadar, langkahku terpaku
Gelap, hambar, suasana cemberut
Tetap kuat mencari hati yang baru

Buat apa aku mengingatmu
Kau masa lalu
Menunggu datang terang
Gelap ini pasti hilang

Jangan, jangan aku lihat ke belakang
Semua akan hilang
Roda ini masih membawaku
Pergi tinggalkan masa lalu


                Selesai....

Celly Tomokianz





NEGERI PARA PENGHIANAT 7

Bab 7: Harap yang Menyala, Bukan Sekadar Cahaya Negeri ini telah berkali-kali disakiti oleh penguasanya sendiri. Diperas oleh tangan-tang...