Rabu, 14 Mei 2025

CINTA YANG MENYAKITIKU



Karya: Celly Tomokianz


Aku pernah percaya, cinta bisa menyembuhkan segala luka. Maka aku bertahan. Aku memilih Raka—laki-laki yang pernah kubela mati-matian, meski hatiku sempat ragu. Aku memilihnya, bukan karena lupa pada Indra, tapi karena yakin... bahwa setiap orang layak diberi kesempatan untuk membuktikan cintanya.


Tapi ternyata, kesempatan itu seperti senjata yang perlahan membunuhku.


Hari-hariku setelah menikah bukan bahagia seperti dalam doa. Justru penuh luka yang diam-diam mengikis keyakinanku. Raka tak pernah benar-benar hadir. Ia sering pulang larut, membawa aroma asing yang tak bisa kusebutkan. Katanya kerja, katanya lelah. Tapi aku tahu... hatinya tak utuh bersamaku.

Setiap malam, aku mendengar suara langkahnya pulang larut.
Suara-suara telepon yang ia sembunyikan, pesan-pesan yang ia hapus dengan tergesa.
Namun, aku bukan orang bodoh.
Aku tahu ada yang tidak benar.

Aku menemukan nama Ika.
Teman sekantornya yang entah mengapa menjadi wanita yang selalu ada di teleponnya.
Awalnya aku mencoba berpikir positif—mungkin hanya rekan kerja biasa.
Tapi semakin aku menggali, semakin dalam aku tenggelam dalam kesedihan.


Aku hamil besar ketika semua ini terjadi.
Beban di tubuhku terasa ringan dibandingkan beban di hati yang terus bertambah berat.
Saat perutku membesar, Raka semakin jauh.
Ia sibuk dengan dunia lain, yang tak bisa aku sentuh atau pahami.

Malam-malam panjang kuhabiskan dalam kesendirian.
Kuterima kepedihan ini sebagai konsekuensi cinta yang dulu kubela.
Setiap kali aku ingin mengadu, suaraku tenggelam dalam diam.
Aku takut anak kami mendengar ibunya menangis.


Hatiku hancur. Tapi aku diam.


Aku tidur sendirian malam itu, menggenggam perutku yang mulai terasa berat, sambil menahan isak dalam sunyi. Aku tidak ingin anakku mendengar tangis ibunya sejak dalam rahim.


Tapi rasa sakit itu tak berhenti di sana.


Beberapa kali, aku mendengar nama-nama lain. Wajah-wajah asing yang kadang kulihat muncul di notifikasi pesannya. Kadang kubaca sekilas, kadang kubiarkan, karena hatiku sudah terlalu lelah untuk mencari tahu.

Kehadiran anak kami seharusnya menjadi titik terang,
Namun cahaya itu malah semakin menjauh.
Raka tak pernah benar-benar hadir.
Dia hanya bayang-bayang yang hilang timbul di antara janji-janji yang tak terpenuhi.

Aku bertahan, tapi aku rapuh.
Menanti kasih sayang yang tak kunjung datang.
Menanti cinta yang tak pernah tumbuh.

Setelah melahirkan, aku sadar—aku tidak bisa terus begini.

Aku hanya ingin melahirkan anakku dengan selamat. Itu saja.


Dan ketika putra kecilku lahir, aku menatapnya dengan air mata. Bukan air mata bahagia. Tapi campuran antara syukur dan perih yang tak bisa kuucapkan.


Aku menatap bayi itu, dan berkata dalam hati:


"Maafkan Mama, Nak. Dunia ini tak seindah yang Mama harapkan. Tapi Mama janji, kamu tidak akan hidup dalam kebohongan seperti ini."


Aku bertahan beberapa bulan. Menyusui dengan tubuh yang lelah, bangun malam dengan mata sembab, dan menyambut Raka yang semakin asing. Hingga akhirnya, aku menyerah. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku tahu... aku pantas mendapatkan lebih dari sekadar sakit hati.


Aku mengemasi harapanku, dan keluar dari rumah itu.

Untuk pertama kalinya, aku berjalan bukan demi cinta, tapi demi diriku sendiri.

Aku harus memilih, bukan hanya demi anak kami, tapi juga demi diriku sendiri.
Aku tak mau cinta yang seharusnya menguatkan, malah menjadi luka yang merenggut seluruh hidupku.

Aku memutuskan untuk pergi.
Dengan hati yang penuh luka, tapi dengan kepala yang tegak.
Aku memilih kebebasan dari penjara cinta yang menyakitiku.

Ini bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari perjalanan baru.
Perjalanan untuk menemukan kembali siapa aku,
dan apa arti cinta sejati yang sesungguhnya.






Pagi itu, aku bangun dengan rasa lega yang aneh.
Setelah sekian lama terperangkap dalam kebohongan dan kepedihan, aku akhirnya berani mengambil langkah yang selama ini kutakuti: pergi.

Aku merapikan sedikit barang, mengemas pakaian putraku dan beberapa milikku.
Tidak banyak, karena aku sadar—hidup baru tidak butuh beban lama.
Kuangkat anak kecil itu dalam pelukanku, melihat wajah mungilnya yang polos, tanpa dosa, tanpa beban masa lalu.

“Maafkan Mama, Nak,” bisikku lirih.
“Ini demi kita. Demi hidup yang lebih baik.”

Hari-hari pertama di tempat baru penuh dengan kebingungan dan rasa sepi.
Tempat baru, suasana baru, dan yang paling berat: tanpa Raka.
Banyak yang bertanya, mengapa aku berani mengambil keputusan ini.
Ada yang menganggapku pengecut, meninggalkan suami dan anak di tengah masalah.
Tapi aku tahu, aku justru sedang berjuang untuk anakku.

Aku mulai bekerja lagi, mencari penghasilan supaya kami bisa bertahan.
Tentu saja, bukan hal mudah bagi ibu baru yang juga masih berjuang menerima luka hati.
Setiap malam aku menangis diam-diam, membujuk diri untuk tetap kuat.

Tapi seiring waktu, aku mulai merasakan sesuatu yang lama hilang: harapan.
Aku bertemu dengan teman-teman baru, orang-orang yang tulus mendukungku.
Anakku tumbuh sehat dan ceria, menjadi sumber kekuatanku yang tak tergantikan.

Aku belajar bahwa kebahagiaan bukan tentang memiliki seseorang yang sempurna.
Tapi tentang bagaimana aku mencintai diri sendiri,
dan bagaimana aku mampu membangun kehidupan yang penuh makna, meski tanpa Raka.

Masih ada luka, tentu saja.
Tapi luka itu tidak lagi menghalangiku.
Aku tahu, aku harus tetap berdiri, tetap melangkah, demi masa depan kami.

Dan aku percaya, suatu hari nanti,
aku akan menemukan cinta yang benar-benar menguatkan, bukan yang menyakiti.


Dan aku pergi...
Dengan tubuh yang lelah, hati yang remuk, tapi jiwa yang perlahan bangkit.

Aku tak ingin anakku tumbuh dalam rumah yang penuh teriakan dan diam yang menyakitkan.
Aku tak ingin ia mengira cinta seperti itu adalah hal yang patut dipertahankan.

Mungkin aku pernah mencintai Raka dengan seluruh jiwaku.
Tapi aku lebih mencintai diriku sekarang—dan anakku—lebih dari rasa sakit itu.

Aku bangkit. Aku memilih hidup.
Dan luka ini... bukan akhirku. Tapi awal dari aku yang baru.


***
Suatu hari nanti
Kau akan melihatku berdiri tegak
Dengan kedua kakiku
Setelah kau patahkan sayap-sayapku

Aku mampu berputar tanpamu
Meraih mimpi, meski bukan untukmu
Jemariku, perang kembali
Kadang terjerat dua sisi

Termenungku, panik, aku takut
Tersadar, langkahku terpaku
Gelap, hambar, suasana cemberut
Tetap kuat mencari hati yang baru

Buat apa aku mengingatmu
Kau masa lalu
Menunggu datang terang
Gelap ini pasti hilang

Jangan, jangan aku lihat ke belakang
Semua akan hilang
Roda ini masih membawaku
Pergi tinggalkan masa lalu


                Selesai....

Celly Tomokianz





Najma Peraly Dwiyuda

 


 “Cahaya Najma”

Di langit malam yang tak bersuara,
Bersinar satu bintang istimewa,
Namanya Najma, cahaya rahasia,
Lembut namun kuat seperti doa.

Pearly, mutiara dari samudra jiwa,
Tersembunyi dalam tenang, namun penuh makna,
Tak hanya indah, ia juga bijaksana,
Menjaga dunia dalam diam yang tak terbaca.

Dwiyuda, dua kekuatan berpadu,
Pejuang tangguh dalam sunyi yang syahdu,
Tak menyerah meski dunia membeku,
Langkahnya tenang, tapi penuh restu.

Najma Pearly Dwiyuda—bukan hanya nama,
Ia adalah cerita tentang cahaya,
Yang berkilau bukan untuk dilihat semata,
Tapi untuk menjadi arah bagi jiwa yang luka. Seorang perempuan yang bersinar indah dan murni, memiliki kekuatan ganda dalam perjuangan hidup.


Kutipan Arti Nama:

Najma Pearly Dwiyuda—bintang yang bersinar seperti mutiara, membawa keindahan dalam jiwa dan kekuatan dalam diam. Ia bukan sekadar nama, tapi takdir seorang pejuang lembut yang menerangi dunia.”




 



Selasa, 13 Mei 2025

SAFARAZ BAYU SAMUDRA

 Safaraz Bayu Samudra



Safaraz, kilau martabat dari langit,

Langkahnya ringan, namun penuh arti,

Membawa damai, bukan hanya janji,

Tingginya laksana doa yang tak henti.


Bayu, angin yang berhembus tenang,

Tak terlihat namun memberi kehidupan,

Lembut menyentuh daun dan harapan,

Mengiringi waktu tanpa paksaan.


Samudra, biru tak bertepi,

Menyimpan rahasia dan makna abadi,

Dalam diamnya, dalam ombaknya,

Terdapat kekuatan dan ketenangan jiwa.


Namamu, wahai Safaraz Bayu Samudra,

Adalah puisi dari langit dan bumi—

Kehormatan, kelembutan, dan kedalaman

bersemayam di dalam dirimu.




Penulis : Celly Tomokianz

KAU BUKAN UNTUKKU

Edisi: Cahaya Gemilang

Penulis: Celly Tomokianz




Bab 1 – Pertemuan Tak Terduga

Pertemuan kembali antara dua insan yang telah lama terpisah sejak masa sekolah dulu, tak pernah disangka akan menjadi awal dari kisah yang begitu hangat—penuh tawa dan canda. Cahaya, seorang wanita dewasa yang kini menjalani hidupnya dengan tenang, bertemu kembali dengan Gemilang, sahabat lamanya.

Hari demi hari berlalu, kedekatan mereka semakin erat. Ada tawa dalam setiap percakapan, candaan dalam setiap sapa, dan rasa nyaman yang tumbuh diam-diam. Gemilang seolah menjadikan Cahaya sebagai tempat pulangnya, selalu melapor sebelum berangkat kerja, selalu ada alasan untuk menyapa.

Namun dalam hati Cahaya, timbul keraguan. “Ah, mungkin dia hanya terlalu ramah... atau hanya sekadar iseng,” gumamnya suatu hari. Ia tak ingin terjebak dalam angan-angan yang mungkin hanya khayalan.

Bab 2 – Rasa yang Tak Terduga

Meski awalnya bersikap biasa, lambat laun perhatian Gemilang mulai menyentuh hati Cahaya. Ia merasa kehilangan ketika tak ada kabar dari Gemilang. Wajah, suara, bahkan bayangannya, terus mengisi ruang pikirannya.

Suatu hari, Cahaya mengunggah foto karya seseorang yang ia kagumi. Dalam foto itu, tampak seorang pria bertato di punggung. Gemilang, yang melihat foto itu, tanpa banyak tanya langsung menato punggungnya, menirukan gambar yang dilihatnya.

Cahaya terkejut.

“Apa itu kamu dalam foto itu?” tanyanya.

“Bukan, itu temanku,” jawab Gemilang datar.

“Kamu bertato seperti itu?”

“Iya. Kenapa, kamu nggak suka?”

“Tidak. Aku hanya suka karyanya, bukan orangnya. Aku tidak suka pria bertato,” jawab Cahaya tegas.

Sejak hari itu, Gemilang menghilang. Tak ada kabar, tak ada pesan. Cahaya mulai gelisah, merasa bersalah. “Apakah ucapanku membuatnya tersinggung?” pikirnya.

Bab 3 – Teka-Teki Hati

Cahaya merasa hampa. Hari-harinya tak lagi secerah dulu. Gemilang seolah menghilang ditelan waktu. Dalam sepi, ia bertanya pada diri sendiri: "Benarkah perasaanku? Sejak kapan aku menyayanginya? Kenapa bayangannya selalu hadir, bahkan dalam tidurku?”

Suatu hari, Cahaya mencoba menguji hati Gemilang. Ia memposting foto mesra bersama teman lelakinya yang tomboy, hanya untuk melihat reaksi Gemilang. Tapi rencana itu justru berbalik arah. Gemilang berubah drastis. Ia menjadi dingin dan menjaga jarak. Cahaya terdiam. Ia tak menyangka tindakannya membuat Gemilang menjauh.

Bab 4 – Bayangmu Tak Hilang

Hari-hari Cahaya menjadi muram. Tawa yang dulu menghiasi harinya menghilang. Ia menyesal telah bersikap sembrono. Namun semuanya sudah terlambat.

“Kau yang dulu memberi terang di malamku... kini menghilang, tertiup angin. Aku salah menafsirkan hadirmu. KAU BUKAN UNTUKKU... Tapi mengapa rindu ini tak jua pudar?”

Ia berharap—walau kecil—bahwa suatu hari Gemilang akan memahami perasaannya. Untuk saat ini, Cahaya memutuskan untuk melangkah. Ia mencoba move on, mencoba menjalani hari tanpa bayangan Gemilang. Tapi kenyataannya, bayangan itu masih hadir. Terus bermain di pikirannya.

Bab 5 – Kabar Terakhir

Waktu berlalu. Hari-hari sepi tak lagi diisi kabar dari Gemilang. Cahaya tetap bertanya-tanya, berharap suatu pagi ada pesan darinya. Tapi tidak ada. Hening.

Hingga suatu hari, kabar itu datang. Bukan dari Gemilang, tapi dari seorang teman lama. Dengan nada pelan dan hati-hati, ia berkata, “Gemilang sudah menikah.”

Cahaya terdiam. Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Napasnya tercekat.

“Menikah?” ulangnya pelan, nyaris tak terdengar.

“Iya. Beberapa minggu lalu. Perempuannya bukan orang yang kita kenal, tapi katanya dari tempat kerjanya,” lanjut temannya.

Berita itu menghantam hati Cahaya seperti badai. Sakit. Pedih. Ia merasa ditinggalkan tanpa pernah diberi kesempatan untuk benar-benar tahu bagaimana perasaan Gemilang yang sebenarnya.

Namun ia tahu, ini adalah kenyataan. Dan seperti namanya, Cahaya harus terus bersinar meski kini Gemilang telah memilih jalan yang berbeda.

Bab 6 – Masih Sendiri

Hari-hari berlalu. Musim berganti. Namun hati Cahaya tetap di tempat yang sama—sepi dan sendiri. Meski ia mencoba membuka diri, mencoba mengalihkan pikirannya, kenyataan tak bisa disangkal: belum ada yang mampu menggantikan posisi Gemilang dalam hatinya.

Setiap kali ia melangkah lebih jauh, bayangan masa lalu itu kembali hadir. Seolah menegaskan bahwa ia belum benar-benar sembuh. Namun Cahaya tidak menyerah. Ia tak ingin terjebak dalam kenangan. Ia ingin bangkit, meski perlahan.

Ia percaya, mungkin saat ini belum waktunya. Tapi suatu hari, seseorang akan datang. Bukan untuk mengisi kekosongan, tapi untuk menyempurnakan.

Dan sampai saat itu tiba, Cahaya memilih tetap setia pada dirinya sendiri.

Bab 7 – Cahaya dalam Diam

Aku masih di sini. Di tempat yang sama. Duduk sendiri di teras rumah setiap sore, menatap langit jingga yang perlahan berubah kelam. Kadang kupikir, bagaimana bisa sebuah kenangan yang bahkan tak pernah resmi menjadi cinta, bisa begitu dalam meninggalkan jejak?

Aku mulai terbiasa. Mungkin ini semacam proses penyembuhan, meski sesekali luka itu berdarah lagi. Aku belajar menertawakan rindu yang tak pernah sampai. Belajar berdamai dengan kehilangan yang bahkan tak sempat memiliki.

Aku mulai kembali menulis, menumpahkan segalanya pada kata. Menulis membuatku lega, membuatku merasa hidup. Entah kenapa, dari semua luka yang kubawa, justru lewat menulis aku merasa utuh.

Temanku bilang, aku terlalu dalam mencintai dalam diam. Tapi bagaimana aku bisa tak peduli pada seseorang yang membuatku tersenyum bahkan hanya dengan satu pesan singkat?

Sekarang, hidupku tak seramai dulu. Tapi bukan berarti aku tak bahagia. Ada ketenangan dalam kesendirian. Ada kedewasaan yang tumbuh di balik sepi. Aku belajar mencintai diriku lebih dari sebelumnya.

Dan jika suatu hari nanti, seseorang datang mengetuk hatiku, aku akan tahu... bukan karena aku sedang butuh dicintai, tapi karena aku sudah siap untuk memberi cinta yang sehat, tanpa luka lama.

Untuk saat ini, biarkan aku menikmati sunyiku. Biarkan aku menjadi Cahaya... meski tanpa Gemilang.

Bab 8 – Takdir Baru

Setelah melewati masa-masa kelam, Cahaya mulai bangkit. Ia menata hidupnya kembali. Fokus pada karier, memperdalam keahliannya, dan mengembangkan bisnis kecil yang dulu sempat terbengkalai. Perlahan tapi pasti, usahanya mulai dilirik banyak pihak. Namanya mulai dikenal di lingkungan profesional.

Tak disangka, ia mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan besar. Di sana, ia menunjukkan kompetensi dan kerja keras yang luar biasa. Bakatnya bersinar. Dalam waktu yang singkat, ia dipercaya menangani proyek besar. Bosnya, seorang pria paruh baya yang berwibawa dan bijak, mulai memperhatikan dedikasi Cahaya.

Awalnya hanya sebatas kerja profesional. Namun perhatian tulus dan cara sang bos mendengarkan setiap ide dan keresahan Cahaya, membuat hati wanita itu perlahan membuka. Ia merasa dihargai, didengar, dan—yang paling penting—tidak dihakimi.

Lelaki itu bukan sosok romantis yang penuh kata manis. Tapi dari caranya memandang Cahaya saat ia lelah, dari cara ia membela di ruang rapat, dari cara ia menepati janji kecil... Cahaya tahu, ini berbeda.

Tak lama, benih cinta tumbuh perlahan, tanpa paksaan. Dan ketika sang bos menyatakan keinginannya untuk membangun rumah tangga bersamanya, Cahaya tak lagi ragu.

Kini Cahaya bukan hanya wanita yang telah berhasil mengobati luka masa lalu, tapi juga sosok yang menemukan cinta dalam bentuk paling dewasa: penuh penerimaan, kedewasaan, dan penghargaan.

Cahaya akhirnya menikah dengan pria yang kini menjadi suaminya—bos besar yang dulu hanya ia kagumi dari jauh. Hidupnya kini lebih seimbang. Bahagia bukan karena akhirnya ia dimiliki, tetapi karena ia merasa pantas dicintai.

Dan tentang Gemilang... ia kini hanyalah bagian dari cerita masa lalu.

TAMAT.

Senin, 12 Mei 2025

AKU DAN DIA( Indra)

 Aku dan Dia: Dari Mata Indra

Pov: Indra

Karya: Celly Tomokianz




Aku pernah mencintai seseorang...

dalam diam, dalam ketulusan yang tak pernah meminta balasan.


Namanya Bintang.

Dia datang saat aku bahkan tak sedang mencari siapa pun.

Dia muncul dalam bentuk luka—dengan mata sembab dan senyum yang dipaksakan.


Awalnya aku hanya ingin menenangkan.

Menjadi bahu untuk bersandar. Menjadi teman saat dunia menjauh.

Tapi siapa sangka, justru aku yang jatuh terlalu dalam.


Dia milik orang lain. Tapi kehadirannya,

berarti terlalu banyak untuk bisa kuanggap biasa.


Aku pernah bilang,

"Kalau memang jodoh, takkan ke mana."

Dan ternyata… kami bukan jodoh itu.

Karena dia memilih tetap tinggal di hubungan yang melukainya.

Dan aku? Aku perlahan menjauh, membawa hatiku yang belum sempat bicara lebih banyak.


Waktu berlalu.

Aku pun menikah. Bukan karena aku berhenti mencintai Bintang,

tapi karena aku tahu, aku tak bisa menunggu seseorang yang tak pernah benar-benar memilihku.


Lalu aku dengar… dia berpisah.

Setelah bertahun-tahun mencoba bertahan, dia akhirnya melepaskan.

Dan saat itu… sudah terlambat untuk kembali.

Bukan karena cinta itu hilang,

tapi karena hidup kami sudah berbeda arah.


Kadang aku bertanya—apa kabarnya?

Apakah dia masih suka tersenyum sambil menahan air mata?

Apakah dia tahu… bahwa aku pernah benar-benar ingin menjadi tempat terakhirnya pulang?


Tapi aku tidak mencari jawabannya.

Karena beberapa cinta, cukup dikenang tanpa perlu dimiliki.


Aku mencintainya—dulu, dan mungkin…

selalu akan begitu.


Sekian...

AKU DAN DIA (Bintang)

 


Aku dan Dia: Setelah Semua Berlalu

Karya: Celly Tomokianz



Pov: Bintang

Waktu berjalan…
dan seperti janji semesta, tak ada yang abadi.

Aku—Bintang—akhirnya memilih bertahan pada cinta yang dulu kurasa sebagai segalanya.
Ya, aku menikah dengannya.
Dengan harapan, luka akan sembuh jika cukup banyak waktu dan pengorbanan.

Tapi ternyata...
Cinta yang tidak tumbuh dua arah, hanya membuatku semakin kehilangan diriku sendiri.
Hari-hari yang seharusnya indah, berubah jadi sunyi meski ada suara.
Ada anak laki-laki kami—cahaya kecil yang membuatku tetap tersenyum.
Namun hatiku... tetap retak.

Kami akhirnya berpisah.
Bukan karena aku tidak mencoba,
tapi karena aku lelah menjadi satu-satunya yang bertahan.

Dan kamu, Indra...
Saat aku kembali melirik ke masa lalu,
aku tahu kamu sudah pergi jauh dari kehidupan yang mungkin pernah bisa kita miliki.
Kamu sudah menikah. Bahagia—semoga begitu.
Aku tidak ingin mengganggu apa pun yang telah kamu bangun.

Aku hanya ingin kamu tahu,
dulu, kehadiranmu bukan sekadar pelarian.
Kamu adalah rumah yang pernah menenangkanku
saat dunia seperti tak peduli padaku.

Kini aku berdiri sendiri, tapi tak lagi goyah.
Aku tidak lagi menyesal, tidak juga menunggu.
Aku hanya mengingat—dengan lapang dada dan hati yang tak lagi menangis.

Mungkin kita memang hanya sebatas “hampir.”
Dan itu cukup.
Karena dalam “hampir” itu, aku belajar tentang arti dicintai tanpa harus dimiliki.

Terima kasih, Indra.
Untuk waktu, untuk rasa, untuk kenangan.

Dan untuk kamu, yang pernah jadi bagian dari cerita ini:
Aku—Bintang—baik-baik saja sekarang.
Aku memilih menjadi utuh, walau tidak lagi bersama siapa-siapa.




"Kini aku berdiri sendiri, tapi tak lagi goyah.
Aku tidak lagi menyesal, tidak juga menunggu.
Aku hanya mengingat—dengan lapang dada dan hati yang tak lagi menangis."

 


Celly Tomokianz


AKU DAN DIA

 

Karya: Celly Tomokianz





Dulu, aku dan dia hanya dua nama yang saling tahu tapi tak pernah benar-benar mengenal. Kami satu sekolah, satu lingkungan, tapi seolah berada di dua dunia yang berbeda. Namaku Indra, dan dia... Bintang.


Namanya selalu terdengar, tapi tak pernah benar-benar aku perhatikan. Hanya sekilas di lorong, satu pandangan di kelas olahraga, atau suara tawa dari kejauhan. Dia bukan teman dekatku. Bukan pula seseorang yang pernah berbagi bangku denganku. Tapi entah kenapa, aku tak pernah benar-benar melupakannya.


Tahun berganti. Sekolah usai. Hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Lalu, satu pesan sederhana dari media sosial membawa kami kembali bersua.


“Eh, kamu Indra, kan? Yang dulu sering bawa gitar ke sekolah?”


Aku tersenyum membaca pesan itu. Nama Bintang tertera jelas. Aku membalas dengan ringan, dan percakapan kami pun dimulai. Dari percakapan ringan tentang masa sekolah, berlanjut ke cerita-cerita hari ini. Awalnya biasa saja—nostalgia, tanya kabar, bercanda.


Tapi kemudian, obrolan jadi lebih panjang. Kami mulai saling terbuka. Tentang pekerjaan, keluarga, bahkan luka-luka kecil yang tak pernah kami bagi ke orang lain. Aku mulai tahu sisi lain Bintang. Ia bukan sekadar gadis populer seperti dulu. Ia kuat, tapi rapuh. Ceria, tapi menyimpan lelah.


Dan satu hal yang membuat hatiku terenyuh—Bintang punya kekasih. Sudah lama. Tapi sering membuatnya menangis.


“Dia sibuk. Mungkin terlalu sibuk untukku,” katanya suatu malam.


“Tapi kamu masih bertahan?” tanyaku.


“Karena aku cinta.”


Aku tak bisa berkata apa-apa. Malam itu, Bintang menangis dalam pesan-pesan panjangnya. Dan aku? Aku hanya menjadi telinga. Menjadi tempat untuk ia bersandar ketika dunianya goyah.


Lama-lama, aku terbiasa berada di sana. Saat dia butuh didengar, aku hadir. Saat dia butuh tertawa, aku membuat lelucon. Saat dia diam terlalu lama, aku mengirim lagu, berharap suaraku bisa membuatnya merasa tidak sendiri.


Perasaan itu tumbuh perlahan. Aku sendiri tak sadar kapan tepatnya. Awalnya hanya simpati, lalu rasa nyaman. Hingga akhirnya, ada rindu yang tak bisa dijelaskan.


Aku mulai menantikan kabarnya. Aku resah saat dia tak muncul seharian. Aku... jatuh cinta. Tapi, bolehkah aku?


Dia tidak sendiri. Ada seseorang di hatinya. Seseorang yang membuatnya menangis, tapi tetap ia pertahankan.


Aku ingat malam itu. Hujan turun deras. Suaranya terdengar parau lewat telepon.


“Aku ingin pergi dari hubungan ini, Indra. Tapi aku takut. Aku takut sendiri.”


Hatiku nyeri. Tapi aku tetap diam.


“Kamu tahu,” kataku pelan, “aku nggak tahu sejak kapan mulai merasa ini. Tapi setiap kali kamu cerita tentang sakit hati, aku selalu berharap... kamu tahu, kamu layak untuk lebih dari itu. Aku ingin kamu bahagia. Walau itu bukan sama aku.”


Hening.


Lalu aku mendengar isaknya. Pelan. Menyayat.


“Aku nggak nangis,” katanya dengan suara gemetar.


Tapi aku tahu. Air matanya jatuh malam itu.


Hari demi hari kami terus berkomunikasi. Kadang seperti sahabat. Kadang seperti dua orang yang saling mencintai tapi tak berani menyebutnya. Setiap aku bertanya, “Apa yang kamu rasakan tentang aku?” dia hanya menjawab:


“Entahlah… aku tidak tahu.”


Dan aku percaya. Dia memang tidak tahu. Hatinya masih terpaut pada kekasihnya. Tapi ruang di hatinya yang kosong... perlahan aku isi.


Kami sering bertemu diam-diam. Bukan untuk hal yang salah. Hanya untuk saling menenangkan. Duduk berdua di taman kota. Minum kopi tanpa banyak bicara. Tertawa, lalu saling diam, karena takut terlalu nyaman.


“Aku nggak bisa tanpanya, Indra… tapi aku juga nggak bisa tanpamu.”


Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku. Aku tahu aku harus pergi, tapi setiap kali aku coba menjauh, dia datang lagi. Membawaku kembali ke ruang yang setengah gelap, setengah hangat. Bukan karena jahat. Tapi karena sama-sama bingung.


Waktu terus berjalan.


Kami masih saling bicara. Masih saling menunggu kabar. Tapi tak pernah benar-benar mengucapkan apa yang sebenarnya kami rasakan.


Cinta ini... menjadi rahasia.


Bukan karena kami menyembunyikannya dari dunia. Tapi karena bahkan kami sendiri belum benar-benar mengerti. Apakah ini cinta? Atau hanya pengganti? Apakah ini akan bertahan? Atau hanya jadi bagian kecil dari cerita hidup masing-masing?


Yang jelas, aku tahu satu hal.


Jika ini hanya sebatas rasa... maka biarlah ia tetap jadi rahasia yang indah. Antara aku dan dia.


Antara Indra dan Bintang.



Namun jauh di lubuk hatinya, Bintang tahu:
Ia ingin sekali memilih Indra.

Indra yang selalu hadir, yang memahami tanpa banyak tanya, yang membuat hatinya terasa utuh saat dunia seakan menjatuhkan.

Ia tahu, bersama Indra, ia merasa tenang—dihargai, didengarkan, dan dicintai tanpa syarat. Tapi sebuah ketakutan terus membayanginya: "Bagaimana jika orang tua Indra tak bisa menerimaku?"

"Indra pantas mendapatkan yang lebih baik," pikirnya berkali-kali.
Bahkan jika hatinya ingin sekali memilih pria itu.


Tapi Bintang terlalu sadar diri. Ia hanya perempuan biasa, dari keluarga sederhana, dengan luka-luka yang masih membekas.

Sementara Indra...
Datang dari keluarga berada. Latar belakang mereka terlalu berbeda.
Bintang takut jika hubungan itu tak direstui. Ia pernah mendengar cerita adik Indra—yang menikah tanpa persetujuan orang tua, dan akhirnya hidupnya penuh luka.

"Kalau adiknya saja tidak direstui... bagaimana denganku?" bisik Bintang dalam hati.

Padahal, Indra...
Andai saja Bintang berani melangkah lebih dulu, Indra pasti akan memperjuangkannya.
Cinta itu bisa saja menjadi nyata, jika diberi kesempatan.

Tapi Bintang memilih mundur.
Bukan karena tak cinta.
Tapi karena takut tak dianggap pantas.

Sebelum cinta itu diperjuangkan,
Ia memilih menguburnya dalam diam.

Namun, Bintang juga mencintai Raka. Meski sering disakiti, ia pernah menjadi satu-satunya yang mengisi hari-harinya.
Ia bingung. Di satu sisi, ada cinta yang sudah lama tumbuh. Di sisi lain, ada ketulusan yang datang tanpa diminta.

Dan yang paling ia takutkan—bukan hanya kehilangan Raka...
Tapi kehilangan Indra.
Seseorang yang selalu ada, meski tak pernah benar-benar dimiliki.





Selesai.

Celly Tomokianz





Indra & Bintang

 *Surat yang Terbang Jauh*



Di sebuah sekolah menengah pertama yang sibuk, ada seorang siswa bernama Silviana. Meskipun mereka tidak pernah sekelas, setiap hari Silviana selalu melihat seorang pria yang diam-diam membuat hatinya berdebar. Hanya dari kejauhan, dia bisa merasakan keberadaan pria itu—sekadar melihat senyumannya atau sekadar melihatnya lewat di koridor. Tanpa kata-kata, dia sudah cukup menjadi bagian dari dunia kecil Silviana.


Silviana merasa bahwa dia tidak pernah cukup berani untuk menyapa atau berbicara dengannya, meski mereka berada di sekolah yang sama. Bahkan, mereka tidak pernah berbicara satu sama lain. Keberadaan pria itu di sekitarnya sudah cukup membuat hari-hari Silviana lebih berwarna. Itu adalah kenangan yang indah, meski tanpa pernah ada percakapan.


Namun, ada satu hal yang tidak bisa ditahan oleh Silviana—keinginan untuk menyampaikan perasaan yang telah lama terkubur. Tanpa ada kesempatan untuk berbicara langsung, Silviana menulis surat. Sebuah surat penuh perasaan yang belum pernah diungkapkan, sebuah surat yang akhirnya diserahkan lewat cara yang tak biasa: dikirim melalui burung, berharap surat itu sampai pada tujuannya.



Dan entah bagaimana, surat itu sampai padanya. Silviana tidak tahu apakah pria itu membaca atau memahami apa yang ada dalam surat tersebut, tetapi itulah caranya Silviana mencoba menyampaikan isi hati.


Tidak hanya surat, Silviana juga memberikan hadiah—sebuah jam tangan couple yang elegan. Sebuah simbol, meskipun tanpa kata-kata, tentang perasaan yang sulit diungkapkan. Hadiah itu diserahkan melalui teman, berharap bisa diterima, meski tak pernah ada pembicaraan tentang itu.


Seiring berjalannya waktu, Silviana meninggalkan masa sekolah dan melanjutkan hidup, namun kenangan itu tetap ada, seperti sebuah pohon yang perlahan tumbuh meski tak terawat. Ada keinginan untuk bertemu lagi, meski hanya untuk melihatnya dari jauh, untuk merasakan lagi perasaan yang pernah ada—tanpa perlu kata-kata.



Waktu berlalu, dan meskipun Silviana telah dewasa, kenangan itu tak pernah benar-benar hilang. Suatu hari nanti, jika mereka bertemu lagi, mungkin hanya senyuman singkat yang bisa mengungkapkan semua perasaan yang dulu terpendam.


(Kutipan hati Silviana : 👇🏻👇🏻👇🏻)


Ketika ku temukan seekor burung

Aku menghampirinya

Ternyata dia terluka

Akupun merawat dan mengobatinya

Kini lukanya terobati


Ku tulis sebuah surat

Lalu ku selipkan di kakinya

Ku terbangkan dia

Entah sampai mana dia pergi


Dalam surat itu tertulis

Curahan isi hatiku

Yang merindukan sesorang

Hati bimbang, hatiku gersang


Kini dia tak pernah kunjung datang

Hanya hadir dalam bayang-bayang

Dan tak bisa ku sentuh 

Ku saksikan burung itu terbang tinggi

Melayang membawa suratku

Seakan tiada beban dihatinya.



"Kadang, cinta tidak butuh suara. Cukup satu tatapan, satu senyuman yang diam-diam disimpan dalam hati, sudah bisa membuat hari menjadi berarti."


"Ada rindu yang tak pernah sempat tumbuh menjadi temu. Tapi dalam diamnya, ia tetap hidup, bahkan bertahun-tahun kemudian."




"Bukan karena tak berani mencinta, hanya saja hati terlalu takut kehilangan harapan."


"Meski kita tidak pernah sekelas, tidak pernah saling bicara... tapi kenangan tentangmu seperti lagu lama yang tak pernah hilang nadanya."


"Surat itu mungkin tak pernah kau baca, tapi setiap hurufnya adalah keberanian yang selama ini kusembunyikan."


"Kadang, yang paling dalam bukan cinta yang terucap, melainkan yang disimpan rapat dan hidup selamanya dalam kenangan."

 



"Tak semua rasa harus diungkap, karena beberapa cinta paling tulus justru lahir dalam diam."


"Aku tak pernah memilikimu, tapi kenangan tentangmu selalu kupeluk seolah kau ada di sini."


"Hanya melihatmu dari kejauhan sudah cukup membuat hatiku tenang di tengah keramaian."


"Dulu aku percaya surat bisa terbang, karena hanya itu caraku mendekatimu tanpa mendekat."


"Cinta remaja bukan soal memiliki, tapi tentang belajar merelakan tanpa pernah menyapa."


"Terkadang yang paling berkesan adalah yang tidak pernah terjadi, hanya hidup sebagai harapan dalam diam."


🌸 "Cinta yang tak pernah terucap kadang justru paling tulus, karena ia hidup dalam diam dan bertahan dalam kenangan."


🕊️ "Tak semua rasa butuh jawaban; kadang cukup disampaikan dalam hening, agar hati tak lagi memikul sendiri."


🎁 "Hadiah terbaik dari masa muda bukanlah keberanian untuk memiliki, tapi keberanian untuk merasa, meski dalam diam."


💌 "Surat yang tak pernah dijawab tetap punya makna, karena ia adalah bukti keberanian hati yang pernah mencinta."


⏳ "Waktu boleh berlalu, tapi ada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi—ia tinggal diam di sudut kenangan."


Celly_tomokianz


Pengarang 


Celly_Tomokianz 

( Mutiara Samudra )

Perasaan Yang Terpendam




🌸 "Cinta yang tak pernah terucap kadang justru paling tulus, karena ia hidup dalam diam dan bertahan dalam kenangan."


🕊️ "Tak semua rasa butuh jawaban; kadang cukup disampaikan dalam hening, agar hati tak lagi memikul sendiri."



🎁 "Hadiah terbaik dari masa muda bukanlah keberanian untuk memiliki, tapi keberanian untuk merasa, meski dalam diam."


💌 "Surat yang tak pernah dijawab tetap punya makna, karena ia adalah bukti keberanian hati yang pernah mencinta."


⏳ "Waktu boleh berlalu, tapi ada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi—ia tinggal diam di sudut kenangan."


Celly_tomokianz

Cinta Dalam Diam

*Surat yang Terbang Jauh*
Di sebuah sekolah menengah pertama yang sibuk, ada seorang siswa bernama Silviana. Meskipun mereka tidak pernah sekelas, setiap hari Silviana selalu melihat seorang pria yang diam-diam membuat hatinya berdebar. Hanya dari kejauhan, dia bisa merasakan keberadaan pria itu—sekadar melihat senyumannya atau sekadar melihatnya lewat di koridor. 

Tanpa kata-kata, dia sudah cukup menjadi bagian dari dunia kecil Silviana. Silviana merasa bahwa dia tidak pernah cukup berani untuk menyapa atau berbicara dengannya, meski mereka berada di sekolah yang sama. Bahkan, mereka tidak pernah berbicara satu sama lain. 

Keberadaan pria itu di sekitarnya sudah cukup membuat hari-hari Silviana lebih berwarna. Itu adalah kenangan yang indah, meski tanpa pernah ada percakapan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa ditahan oleh Silviana—keinginan untuk menyampaikan perasaan yang telah lama terkubur.

 Tanpa ada kesempatan untuk berbicara langsung, Silviana menulis surat. Sebuah surat penuh perasaan yang belum pernah diungkapkan, sebuah surat yang akhirnya diserahkan lewat cara yang tak biasa: dikirim melalui burung, berharap surat itu sampai pada tujuannya.
Dan entah bagaimana, surat itu sampai padanya. Silviana tidak tahu apakah pria itu membaca atau memahami apa yang ada dalam surat tersebut, tetapi itulah caranya Silviana mencoba menyampaikan isi hati. 

Tidak hanya surat, Silviana juga memberikan hadiah—sebuah jam tangan couple yang elegan. Sebuah simbol, meskipun tanpa kata-kata, tentang perasaan yang sulit diungkapkan. Hadiah itu diserahkan melalui teman, berharap bisa diterima, meski tak pernah ada pembicaraan tentang itu. Seiring berjalannya waktu, Silviana meninggalkan masa sekolah dan melanjutkan hidup, namun kenangan itu tetap ada, seperti sebuah pohon yang perlahan tumbuh meski tak terawat. 

Ada keinginan untuk bertemu lagi, meski hanya untuk melihatnya dari jauh, untuk merasakan lagi perasaan yang pernah ada—tanpa perlu kata-kata. Waktu berlalu, dan meskipun Silviana telah dewasa, kenangan itu tak pernah benar-benar hilang. 

Suatu hari nanti, jika mereka bertemu lagi, mungkin hanya senyuman singkat yang bisa mengungkapkan semua perasaan yang dulu terpendam.
"Kadang, cinta tidak butuh suara. Cukup satu tatapan, satu senyuman yang diam-diam disimpan dalam hati, sudah bisa membuat hari menjadi berarti."

 "Ada rindu yang tak pernah sempat tumbuh menjadi temu. Tapi dalam diamnya, ia tetap hidup, bahkan bertahun-tahun kemudian."

 "Bukan karena tak berani mencinta, hanya saja hati terlalu takut kehilangan harapan." 

"Meski kita tidak pernah sekelas, tidak pernah saling bicara... tapi kenangan tentangmu seperti lagu lama yang tak pernah hilang nadanya."

 "Surat itu mungkin tak pernah kau baca, tapi setiap hurufnya adalah keberanian yang selama ini kusembunyikan."
"Kadang, yang paling dalam bukan cinta yang terucap, melainkan yang disimpan rapat dan hidup selamanya dalam kenangan."
"Tak semua rasa harus diungkap, karena beberapa cinta paling tulus justru lahir dalam diam."

 "Aku tak pernah memilikimu, tapi kenangan tentangmu selalu kupeluk seolah kau ada di sini." 

"Hanya melihatmu dari kejauhan sudah cukup membuat hatiku tenang di tengah keramaian." 

"Dulu aku percaya surat bisa terbang, karena hanya itu caraku mendekatimu tanpa mendekat." 

"Cinta remaja bukan soal memiliki, tapi tentang belajar merelakan tanpa pernah menyapa." "Terkadang yang paling berkesan adalah yang tidak pernah terjadi, hanya hidup sebagai harapan dalam diam." 

  Pengarang 
Celly_Tomokianz 
( Mutiara Samudra )

NEGERI PARA PENGHIANAT 7

Bab 7: Harap yang Menyala, Bukan Sekadar Cahaya Negeri ini telah berkali-kali disakiti oleh penguasanya sendiri. Diperas oleh tangan-tang...