Senin, 12 Mei 2025

AKU DAN DIA( Indra)

 Aku dan Dia: Dari Mata Indra

Pov: Indra

Karya: Celly Tomokianz




Aku pernah mencintai seseorang...

dalam diam, dalam ketulusan yang tak pernah meminta balasan.


Namanya Bintang.

Dia datang saat aku bahkan tak sedang mencari siapa pun.

Dia muncul dalam bentuk luka—dengan mata sembab dan senyum yang dipaksakan.


Awalnya aku hanya ingin menenangkan.

Menjadi bahu untuk bersandar. Menjadi teman saat dunia menjauh.

Tapi siapa sangka, justru aku yang jatuh terlalu dalam.


Dia milik orang lain. Tapi kehadirannya,

berarti terlalu banyak untuk bisa kuanggap biasa.


Aku pernah bilang,

"Kalau memang jodoh, takkan ke mana."

Dan ternyata… kami bukan jodoh itu.

Karena dia memilih tetap tinggal di hubungan yang melukainya.

Dan aku? Aku perlahan menjauh, membawa hatiku yang belum sempat bicara lebih banyak.


Waktu berlalu.

Aku pun menikah. Bukan karena aku berhenti mencintai Bintang,

tapi karena aku tahu, aku tak bisa menunggu seseorang yang tak pernah benar-benar memilihku.


Lalu aku dengar… dia berpisah.

Setelah bertahun-tahun mencoba bertahan, dia akhirnya melepaskan.

Dan saat itu… sudah terlambat untuk kembali.

Bukan karena cinta itu hilang,

tapi karena hidup kami sudah berbeda arah.


Kadang aku bertanya—apa kabarnya?

Apakah dia masih suka tersenyum sambil menahan air mata?

Apakah dia tahu… bahwa aku pernah benar-benar ingin menjadi tempat terakhirnya pulang?


Tapi aku tidak mencari jawabannya.

Karena beberapa cinta, cukup dikenang tanpa perlu dimiliki.


Aku mencintainya—dulu, dan mungkin…

selalu akan begitu.


Sekian...

AKU DAN DIA (Bintang)

 


Aku dan Dia: Setelah Semua Berlalu

Karya: Celly Tomokianz



Pov: Bintang

Waktu berjalan…
dan seperti janji semesta, tak ada yang abadi.

Aku—Bintang—akhirnya memilih bertahan pada cinta yang dulu kurasa sebagai segalanya.
Ya, aku menikah dengannya.
Dengan harapan, luka akan sembuh jika cukup banyak waktu dan pengorbanan.

Tapi ternyata...
Cinta yang tidak tumbuh dua arah, hanya membuatku semakin kehilangan diriku sendiri.
Hari-hari yang seharusnya indah, berubah jadi sunyi meski ada suara.
Ada anak laki-laki kami—cahaya kecil yang membuatku tetap tersenyum.
Namun hatiku... tetap retak.

Kami akhirnya berpisah.
Bukan karena aku tidak mencoba,
tapi karena aku lelah menjadi satu-satunya yang bertahan.

Dan kamu, Indra...
Saat aku kembali melirik ke masa lalu,
aku tahu kamu sudah pergi jauh dari kehidupan yang mungkin pernah bisa kita miliki.
Kamu sudah menikah. Bahagia—semoga begitu.
Aku tidak ingin mengganggu apa pun yang telah kamu bangun.

Aku hanya ingin kamu tahu,
dulu, kehadiranmu bukan sekadar pelarian.
Kamu adalah rumah yang pernah menenangkanku
saat dunia seperti tak peduli padaku.

Kini aku berdiri sendiri, tapi tak lagi goyah.
Aku tidak lagi menyesal, tidak juga menunggu.
Aku hanya mengingat—dengan lapang dada dan hati yang tak lagi menangis.

Mungkin kita memang hanya sebatas “hampir.”
Dan itu cukup.
Karena dalam “hampir” itu, aku belajar tentang arti dicintai tanpa harus dimiliki.

Terima kasih, Indra.
Untuk waktu, untuk rasa, untuk kenangan.

Dan untuk kamu, yang pernah jadi bagian dari cerita ini:
Aku—Bintang—baik-baik saja sekarang.
Aku memilih menjadi utuh, walau tidak lagi bersama siapa-siapa.




"Kini aku berdiri sendiri, tapi tak lagi goyah.
Aku tidak lagi menyesal, tidak juga menunggu.
Aku hanya mengingat—dengan lapang dada dan hati yang tak lagi menangis."

 


Celly Tomokianz


AKU DAN DIA

 

Karya: Celly Tomokianz





Dulu, aku dan dia hanya dua nama yang saling tahu tapi tak pernah benar-benar mengenal. Kami satu sekolah, satu lingkungan, tapi seolah berada di dua dunia yang berbeda. Namaku Indra, dan dia... Bintang.


Namanya selalu terdengar, tapi tak pernah benar-benar aku perhatikan. Hanya sekilas di lorong, satu pandangan di kelas olahraga, atau suara tawa dari kejauhan. Dia bukan teman dekatku. Bukan pula seseorang yang pernah berbagi bangku denganku. Tapi entah kenapa, aku tak pernah benar-benar melupakannya.


Tahun berganti. Sekolah usai. Hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Lalu, satu pesan sederhana dari media sosial membawa kami kembali bersua.


“Eh, kamu Indra, kan? Yang dulu sering bawa gitar ke sekolah?”


Aku tersenyum membaca pesan itu. Nama Bintang tertera jelas. Aku membalas dengan ringan, dan percakapan kami pun dimulai. Dari percakapan ringan tentang masa sekolah, berlanjut ke cerita-cerita hari ini. Awalnya biasa saja—nostalgia, tanya kabar, bercanda.


Tapi kemudian, obrolan jadi lebih panjang. Kami mulai saling terbuka. Tentang pekerjaan, keluarga, bahkan luka-luka kecil yang tak pernah kami bagi ke orang lain. Aku mulai tahu sisi lain Bintang. Ia bukan sekadar gadis populer seperti dulu. Ia kuat, tapi rapuh. Ceria, tapi menyimpan lelah.


Dan satu hal yang membuat hatiku terenyuh—Bintang punya kekasih. Sudah lama. Tapi sering membuatnya menangis.


“Dia sibuk. Mungkin terlalu sibuk untukku,” katanya suatu malam.


“Tapi kamu masih bertahan?” tanyaku.


“Karena aku cinta.”


Aku tak bisa berkata apa-apa. Malam itu, Bintang menangis dalam pesan-pesan panjangnya. Dan aku? Aku hanya menjadi telinga. Menjadi tempat untuk ia bersandar ketika dunianya goyah.


Lama-lama, aku terbiasa berada di sana. Saat dia butuh didengar, aku hadir. Saat dia butuh tertawa, aku membuat lelucon. Saat dia diam terlalu lama, aku mengirim lagu, berharap suaraku bisa membuatnya merasa tidak sendiri.


Perasaan itu tumbuh perlahan. Aku sendiri tak sadar kapan tepatnya. Awalnya hanya simpati, lalu rasa nyaman. Hingga akhirnya, ada rindu yang tak bisa dijelaskan.


Aku mulai menantikan kabarnya. Aku resah saat dia tak muncul seharian. Aku... jatuh cinta. Tapi, bolehkah aku?


Dia tidak sendiri. Ada seseorang di hatinya. Seseorang yang membuatnya menangis, tapi tetap ia pertahankan.


Aku ingat malam itu. Hujan turun deras. Suaranya terdengar parau lewat telepon.


“Aku ingin pergi dari hubungan ini, Indra. Tapi aku takut. Aku takut sendiri.”


Hatiku nyeri. Tapi aku tetap diam.


“Kamu tahu,” kataku pelan, “aku nggak tahu sejak kapan mulai merasa ini. Tapi setiap kali kamu cerita tentang sakit hati, aku selalu berharap... kamu tahu, kamu layak untuk lebih dari itu. Aku ingin kamu bahagia. Walau itu bukan sama aku.”


Hening.


Lalu aku mendengar isaknya. Pelan. Menyayat.


“Aku nggak nangis,” katanya dengan suara gemetar.


Tapi aku tahu. Air matanya jatuh malam itu.


Hari demi hari kami terus berkomunikasi. Kadang seperti sahabat. Kadang seperti dua orang yang saling mencintai tapi tak berani menyebutnya. Setiap aku bertanya, “Apa yang kamu rasakan tentang aku?” dia hanya menjawab:


“Entahlah… aku tidak tahu.”


Dan aku percaya. Dia memang tidak tahu. Hatinya masih terpaut pada kekasihnya. Tapi ruang di hatinya yang kosong... perlahan aku isi.


Kami sering bertemu diam-diam. Bukan untuk hal yang salah. Hanya untuk saling menenangkan. Duduk berdua di taman kota. Minum kopi tanpa banyak bicara. Tertawa, lalu saling diam, karena takut terlalu nyaman.


“Aku nggak bisa tanpanya, Indra… tapi aku juga nggak bisa tanpamu.”


Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku. Aku tahu aku harus pergi, tapi setiap kali aku coba menjauh, dia datang lagi. Membawaku kembali ke ruang yang setengah gelap, setengah hangat. Bukan karena jahat. Tapi karena sama-sama bingung.


Waktu terus berjalan.


Kami masih saling bicara. Masih saling menunggu kabar. Tapi tak pernah benar-benar mengucapkan apa yang sebenarnya kami rasakan.


Cinta ini... menjadi rahasia.


Bukan karena kami menyembunyikannya dari dunia. Tapi karena bahkan kami sendiri belum benar-benar mengerti. Apakah ini cinta? Atau hanya pengganti? Apakah ini akan bertahan? Atau hanya jadi bagian kecil dari cerita hidup masing-masing?


Yang jelas, aku tahu satu hal.


Jika ini hanya sebatas rasa... maka biarlah ia tetap jadi rahasia yang indah. Antara aku dan dia.


Antara Indra dan Bintang.



Namun jauh di lubuk hatinya, Bintang tahu:
Ia ingin sekali memilih Indra.

Indra yang selalu hadir, yang memahami tanpa banyak tanya, yang membuat hatinya terasa utuh saat dunia seakan menjatuhkan.

Ia tahu, bersama Indra, ia merasa tenang—dihargai, didengarkan, dan dicintai tanpa syarat. Tapi sebuah ketakutan terus membayanginya: "Bagaimana jika orang tua Indra tak bisa menerimaku?"

"Indra pantas mendapatkan yang lebih baik," pikirnya berkali-kali.
Bahkan jika hatinya ingin sekali memilih pria itu.


Tapi Bintang terlalu sadar diri. Ia hanya perempuan biasa, dari keluarga sederhana, dengan luka-luka yang masih membekas.

Sementara Indra...
Datang dari keluarga berada. Latar belakang mereka terlalu berbeda.
Bintang takut jika hubungan itu tak direstui. Ia pernah mendengar cerita adik Indra—yang menikah tanpa persetujuan orang tua, dan akhirnya hidupnya penuh luka.

"Kalau adiknya saja tidak direstui... bagaimana denganku?" bisik Bintang dalam hati.

Padahal, Indra...
Andai saja Bintang berani melangkah lebih dulu, Indra pasti akan memperjuangkannya.
Cinta itu bisa saja menjadi nyata, jika diberi kesempatan.

Tapi Bintang memilih mundur.
Bukan karena tak cinta.
Tapi karena takut tak dianggap pantas.

Sebelum cinta itu diperjuangkan,
Ia memilih menguburnya dalam diam.

Namun, Bintang juga mencintai Raka. Meski sering disakiti, ia pernah menjadi satu-satunya yang mengisi hari-harinya.
Ia bingung. Di satu sisi, ada cinta yang sudah lama tumbuh. Di sisi lain, ada ketulusan yang datang tanpa diminta.

Dan yang paling ia takutkan—bukan hanya kehilangan Raka...
Tapi kehilangan Indra.
Seseorang yang selalu ada, meski tak pernah benar-benar dimiliki.





Selesai.

Celly Tomokianz





Indra & Bintang

 *Surat yang Terbang Jauh*



Di sebuah sekolah menengah pertama yang sibuk, ada seorang siswa bernama Silviana. Meskipun mereka tidak pernah sekelas, setiap hari Silviana selalu melihat seorang pria yang diam-diam membuat hatinya berdebar. Hanya dari kejauhan, dia bisa merasakan keberadaan pria itu—sekadar melihat senyumannya atau sekadar melihatnya lewat di koridor. Tanpa kata-kata, dia sudah cukup menjadi bagian dari dunia kecil Silviana.


Silviana merasa bahwa dia tidak pernah cukup berani untuk menyapa atau berbicara dengannya, meski mereka berada di sekolah yang sama. Bahkan, mereka tidak pernah berbicara satu sama lain. Keberadaan pria itu di sekitarnya sudah cukup membuat hari-hari Silviana lebih berwarna. Itu adalah kenangan yang indah, meski tanpa pernah ada percakapan.


Namun, ada satu hal yang tidak bisa ditahan oleh Silviana—keinginan untuk menyampaikan perasaan yang telah lama terkubur. Tanpa ada kesempatan untuk berbicara langsung, Silviana menulis surat. Sebuah surat penuh perasaan yang belum pernah diungkapkan, sebuah surat yang akhirnya diserahkan lewat cara yang tak biasa: dikirim melalui burung, berharap surat itu sampai pada tujuannya.



Dan entah bagaimana, surat itu sampai padanya. Silviana tidak tahu apakah pria itu membaca atau memahami apa yang ada dalam surat tersebut, tetapi itulah caranya Silviana mencoba menyampaikan isi hati.


Tidak hanya surat, Silviana juga memberikan hadiah—sebuah jam tangan couple yang elegan. Sebuah simbol, meskipun tanpa kata-kata, tentang perasaan yang sulit diungkapkan. Hadiah itu diserahkan melalui teman, berharap bisa diterima, meski tak pernah ada pembicaraan tentang itu.


Seiring berjalannya waktu, Silviana meninggalkan masa sekolah dan melanjutkan hidup, namun kenangan itu tetap ada, seperti sebuah pohon yang perlahan tumbuh meski tak terawat. Ada keinginan untuk bertemu lagi, meski hanya untuk melihatnya dari jauh, untuk merasakan lagi perasaan yang pernah ada—tanpa perlu kata-kata.



Waktu berlalu, dan meskipun Silviana telah dewasa, kenangan itu tak pernah benar-benar hilang. Suatu hari nanti, jika mereka bertemu lagi, mungkin hanya senyuman singkat yang bisa mengungkapkan semua perasaan yang dulu terpendam.


(Kutipan hati Silviana : 👇🏻👇🏻👇🏻)


Ketika ku temukan seekor burung

Aku menghampirinya

Ternyata dia terluka

Akupun merawat dan mengobatinya

Kini lukanya terobati


Ku tulis sebuah surat

Lalu ku selipkan di kakinya

Ku terbangkan dia

Entah sampai mana dia pergi


Dalam surat itu tertulis

Curahan isi hatiku

Yang merindukan sesorang

Hati bimbang, hatiku gersang


Kini dia tak pernah kunjung datang

Hanya hadir dalam bayang-bayang

Dan tak bisa ku sentuh 

Ku saksikan burung itu terbang tinggi

Melayang membawa suratku

Seakan tiada beban dihatinya.



"Kadang, cinta tidak butuh suara. Cukup satu tatapan, satu senyuman yang diam-diam disimpan dalam hati, sudah bisa membuat hari menjadi berarti."


"Ada rindu yang tak pernah sempat tumbuh menjadi temu. Tapi dalam diamnya, ia tetap hidup, bahkan bertahun-tahun kemudian."




"Bukan karena tak berani mencinta, hanya saja hati terlalu takut kehilangan harapan."


"Meski kita tidak pernah sekelas, tidak pernah saling bicara... tapi kenangan tentangmu seperti lagu lama yang tak pernah hilang nadanya."


"Surat itu mungkin tak pernah kau baca, tapi setiap hurufnya adalah keberanian yang selama ini kusembunyikan."


"Kadang, yang paling dalam bukan cinta yang terucap, melainkan yang disimpan rapat dan hidup selamanya dalam kenangan."

 



"Tak semua rasa harus diungkap, karena beberapa cinta paling tulus justru lahir dalam diam."


"Aku tak pernah memilikimu, tapi kenangan tentangmu selalu kupeluk seolah kau ada di sini."


"Hanya melihatmu dari kejauhan sudah cukup membuat hatiku tenang di tengah keramaian."


"Dulu aku percaya surat bisa terbang, karena hanya itu caraku mendekatimu tanpa mendekat."


"Cinta remaja bukan soal memiliki, tapi tentang belajar merelakan tanpa pernah menyapa."


"Terkadang yang paling berkesan adalah yang tidak pernah terjadi, hanya hidup sebagai harapan dalam diam."


🌸 "Cinta yang tak pernah terucap kadang justru paling tulus, karena ia hidup dalam diam dan bertahan dalam kenangan."


🕊️ "Tak semua rasa butuh jawaban; kadang cukup disampaikan dalam hening, agar hati tak lagi memikul sendiri."


🎁 "Hadiah terbaik dari masa muda bukanlah keberanian untuk memiliki, tapi keberanian untuk merasa, meski dalam diam."


💌 "Surat yang tak pernah dijawab tetap punya makna, karena ia adalah bukti keberanian hati yang pernah mencinta."


⏳ "Waktu boleh berlalu, tapi ada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi—ia tinggal diam di sudut kenangan."


Celly_tomokianz


Pengarang 


Celly_Tomokianz 

( Mutiara Samudra )

Perasaan Yang Terpendam




🌸 "Cinta yang tak pernah terucap kadang justru paling tulus, karena ia hidup dalam diam dan bertahan dalam kenangan."


🕊️ "Tak semua rasa butuh jawaban; kadang cukup disampaikan dalam hening, agar hati tak lagi memikul sendiri."



🎁 "Hadiah terbaik dari masa muda bukanlah keberanian untuk memiliki, tapi keberanian untuk merasa, meski dalam diam."


💌 "Surat yang tak pernah dijawab tetap punya makna, karena ia adalah bukti keberanian hati yang pernah mencinta."


⏳ "Waktu boleh berlalu, tapi ada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi—ia tinggal diam di sudut kenangan."


Celly_tomokianz

Cinta Dalam Diam

*Surat yang Terbang Jauh*
Di sebuah sekolah menengah pertama yang sibuk, ada seorang siswa bernama Silviana. Meskipun mereka tidak pernah sekelas, setiap hari Silviana selalu melihat seorang pria yang diam-diam membuat hatinya berdebar. Hanya dari kejauhan, dia bisa merasakan keberadaan pria itu—sekadar melihat senyumannya atau sekadar melihatnya lewat di koridor. 

Tanpa kata-kata, dia sudah cukup menjadi bagian dari dunia kecil Silviana. Silviana merasa bahwa dia tidak pernah cukup berani untuk menyapa atau berbicara dengannya, meski mereka berada di sekolah yang sama. Bahkan, mereka tidak pernah berbicara satu sama lain. 

Keberadaan pria itu di sekitarnya sudah cukup membuat hari-hari Silviana lebih berwarna. Itu adalah kenangan yang indah, meski tanpa pernah ada percakapan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa ditahan oleh Silviana—keinginan untuk menyampaikan perasaan yang telah lama terkubur.

 Tanpa ada kesempatan untuk berbicara langsung, Silviana menulis surat. Sebuah surat penuh perasaan yang belum pernah diungkapkan, sebuah surat yang akhirnya diserahkan lewat cara yang tak biasa: dikirim melalui burung, berharap surat itu sampai pada tujuannya.
Dan entah bagaimana, surat itu sampai padanya. Silviana tidak tahu apakah pria itu membaca atau memahami apa yang ada dalam surat tersebut, tetapi itulah caranya Silviana mencoba menyampaikan isi hati. 

Tidak hanya surat, Silviana juga memberikan hadiah—sebuah jam tangan couple yang elegan. Sebuah simbol, meskipun tanpa kata-kata, tentang perasaan yang sulit diungkapkan. Hadiah itu diserahkan melalui teman, berharap bisa diterima, meski tak pernah ada pembicaraan tentang itu. Seiring berjalannya waktu, Silviana meninggalkan masa sekolah dan melanjutkan hidup, namun kenangan itu tetap ada, seperti sebuah pohon yang perlahan tumbuh meski tak terawat. 

Ada keinginan untuk bertemu lagi, meski hanya untuk melihatnya dari jauh, untuk merasakan lagi perasaan yang pernah ada—tanpa perlu kata-kata. Waktu berlalu, dan meskipun Silviana telah dewasa, kenangan itu tak pernah benar-benar hilang. 

Suatu hari nanti, jika mereka bertemu lagi, mungkin hanya senyuman singkat yang bisa mengungkapkan semua perasaan yang dulu terpendam.
"Kadang, cinta tidak butuh suara. Cukup satu tatapan, satu senyuman yang diam-diam disimpan dalam hati, sudah bisa membuat hari menjadi berarti."

 "Ada rindu yang tak pernah sempat tumbuh menjadi temu. Tapi dalam diamnya, ia tetap hidup, bahkan bertahun-tahun kemudian."

 "Bukan karena tak berani mencinta, hanya saja hati terlalu takut kehilangan harapan." 

"Meski kita tidak pernah sekelas, tidak pernah saling bicara... tapi kenangan tentangmu seperti lagu lama yang tak pernah hilang nadanya."

 "Surat itu mungkin tak pernah kau baca, tapi setiap hurufnya adalah keberanian yang selama ini kusembunyikan."
"Kadang, yang paling dalam bukan cinta yang terucap, melainkan yang disimpan rapat dan hidup selamanya dalam kenangan."
"Tak semua rasa harus diungkap, karena beberapa cinta paling tulus justru lahir dalam diam."

 "Aku tak pernah memilikimu, tapi kenangan tentangmu selalu kupeluk seolah kau ada di sini." 

"Hanya melihatmu dari kejauhan sudah cukup membuat hatiku tenang di tengah keramaian." 

"Dulu aku percaya surat bisa terbang, karena hanya itu caraku mendekatimu tanpa mendekat." 

"Cinta remaja bukan soal memiliki, tapi tentang belajar merelakan tanpa pernah menyapa." "Terkadang yang paling berkesan adalah yang tidak pernah terjadi, hanya hidup sebagai harapan dalam diam." 

  Pengarang 
Celly_Tomokianz 
( Mutiara Samudra )

Jumat, 23 Februari 2024

ARTI KEHILANGAN

“Cinta baru sempurna jika terasa menyayat, seperti segumpal tanah liat yang akan baru tampil indah setelah dipahat. Cinta menjadi abadi jika tak terjangkau. 

Ibarat bumi selalu mengitari matahari. Karena tak mampu meraihnya, selamanya menjadi bayangan yang tak terengkuh…. Ditinggalkan jauh lebih menyakitkan daripada diputuskan.

 Namun lebih menyakitkan lagi ketika kita tidak mengerti bahwa terkadang Tuhan izinkan kita kehilangan seseorang untuk kebaikan kita sendiri. 

Kehilangan akan membuat kita merasa rapuh tapi disisi lain kehilangan bisa membuat kita tegar. Tetapi sesuatu yang hilang belum tentu meninggalkan kekosongan, karena jejak-jejak yang ditinggalkannyatak pernah benar-benar hilang. 

Maka, mari belajar untuk mencintai kehilangan itu, karena ia adalah bagian alamiah dari hidup. (Ga mudah memang ,... Tapi biarkan berlalu mengalir seiring dengan berjalannya waktu,,....) Kehilangan membuat banyak pelajaran dan pengalaman baru buat kita. 

Kita dapat menerima dengan baik proses itu, menerima diri kita sendiri. Kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ketika kita kehilangan. 

Kemenangan hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai. Pelajaran dari beberapa kehilangan, bahwa dalam setiap kehilangan ada pembelajaran yang membuat jiwa makin dewasa. 

Atau mungkin menjadi sebuah proses lepasnya sebuah ego dalam diri. Di saat kehilangan, kita jadi meringkuk seperti bayi yang tak punya kuasa. 

Menyadari bahwa sekuat apapun jiwa dan diri, setiap hidup tak pernah lepas dari kehilangan. Bahwa cerita di dunia ini bukan hanya celoteh kita, tapi ada celoteh lain yang harus didengarkan, dipenuhi dan dijalankan.

 Tak lain demi harmonisasi.“ Kita tidak bisa memilih manusia seperti apa yang akan kita cintai , tapi kita bisa menentukan sendiri cara kita mencintai .

 Jika kita terus menerus berputar di pusaran kehilangan, sejatinya kita mendramatisir keadaan dan berfikir bahwa kehilangan ini akan abadi. (Jika tanpa adanya sebuah keikhlasan) Ya.. manusia selalu yakin pada pemikirannya sendiri , tak akan terbantahkan tanpa perenungan. Hal ini sungguh memberi aku ilham akan makna "kehilangan" yang sesungguhnya . 

Semua yang ADA sebenarnya adalah Tidak Ada . "kehilangan" bukan pusaran abadi , asal kita mengerti pada hakikatnya apapun yang di temukan suatu saat pasti akan berakhir dengan caranya sendiri.

KETIKA

Ketika Ketika berpijak di tanah-Mu, kurasakan sentuhan lembut kasih sayang bumi yang menyelimuti langkahku. 

Mengiringi pijakan yang tak kenal lelah, selalu ada jalan terang di sudut yang gelap, cahaya kasih-Mu, yang menerangi hidupku.

 Ketika aku terlelap dalam tidur panjangku, Kau hiasi aku dengan mimpi-mimpi yang indah, menyelimuti dingin malamku dan Kau utus para malaikat untuk menjagaku saatku terlelap dalam tidur.

 Ketika otakku dipenuhi oleh masalah, terasa rapuh jiwaku tak berdaya, kakiku berasa kaku untuk melangkah, alam pikiranku gelap gulita, mencoba untuk berdiri walau hanya dengan satu kaki, hingga beban dalam hati tertutupi, dan ku temukan sebuah harapan dalam hidupku. 

 Ketika ku tak sanggup lagi untuk melangkah, hilang segala arah dan tujuan, segalanya suram bagai malam yang kelam, sejuta harapan itu hancur bagai debu yang tertiup angin, menjadikannya sebutir harapan yang hilang, diterjang badai kehancuran. 

 Ketika amarah merasuk dalam jiwa, dan menjadikannya api yang membakar seluruh jiwa raga hangus menjadi asap yang berterbangan menjadikannya awan hitam yang tak bermakna.

 Ketika dalam diriku sungguh teraturnya tanpa ku sadari dialiran darahku darahku, cinta, kasih dan rindumu mengalir keseluruh jiwa ragaku yang tak mampu ku mengapainya.

 Dan ketika aku bertanya dalam diri, tak cukupkah bukti yang nyata, butakah hati dan mataku menyaksikan semua yang Kau beri untukku. 

Begitu luas kasih sayang-Mu yang Kau limpahkan, tidakkah aku merasa bersyukur atas segalanya? 

 Ketika aku dekat dengan-Mu, barulah ku sadari setelah ku mengerti dan kurasakan betapa indah cahaya kasih-Mu, kini ku tahu rasanya menemukan damai di hati, betapa indahnya mengabdi pada-Mu, kasih-Mu lepaskan belenggu. 

 #CellyTomokianz

Minggu, 17 Juli 2022

BIMBANG

Ketika hati resah tanpa arah 
Tak tahu hendak kemana arah menuju 
Lelah hati dengan semua yang terjadi

Dalam hening malam yang sunyi,
Ku tatap bayang di depan mata,
Antara dua jalan yang terbentang,
Bimbang hati ini mencari makna.

Langkahku terhenti di persimpangan,
Di mana suara nurani dan harapan,
Berlomba merayu jiwa yang gelisah,
Menuntut jawaban atas pilihan yang harus diambil.

Kadang ku ingin menyerah pada gelap,
Namun sinar harapan tetap mengusik,
Mengingatkan bahwa setiap pilihan,
Adalah cerita yang menanti untuk ditulis.

Bimbang bukanlah kelemahan,
Melainkan tanda jiwa yang hidup dan peduli,
Bahwa dalam setiap goresan takdir,
Ada keberanian yang harus kutemukan.

Aku berdiri di batas waktu,
Memandang masa depan yang samar,
Berharap langkah ini menjadi terang,
Dan bimbangku berujung pada dama

Minggu, 17 April 2022

RINDU


Ketika sunyi menyelimuti hati,
Kerinduan pun menghiasi jiwa ini,
Adakah cinta ini masih milikmu,
Ataukah sudah hilang ditelan waktu?

Mendekap dalam heningnya malam,
Ku ingin kembali bersua,
Menjalin cinta yang dulu pernah ada,
Namun takdir tak memihak pada kita.

Kita terpisah jauh oleh jarak dan waktu,
Hanya bisa mendekap bayangmu dalam hayalku,
Di penghujung malam yang sunyi,
Di mana rindu ini terus bersemi.

Meski jarak memisahkan raga,
Jiwaku tetap setia menantimu,
Karena cinta yang pernah ada,
Takkan hilang oleh waktu yang berlalu.

Setiap helaan nafas membawa namamu,
Menjadi lagu bisu di keheningan,
Menyanyikan kisah yang tak terucap,
Namun terasa begitu dalam di hati.

Rindu bukanlah beban yang menyesakkan,
Melainkan pelita dalam gelap malam,
Yang mengajarkan arti kesabaran,
Dan keindahan menunggu dalam harap.

Ku percaya suatu saat waktu akan mempertemukan,
Semua doa yang terucap lirih,
Sampai saat itu tiba,
Rindu ini akan tetap setia menanti.



Gambar yang dibuat
Gambar yang dibuat
Gambar yang dibuat

Jumat, 25 Juni 2021

WANITA BERGELAR PELAKOR

Dear.... Engkau wanita yang bergelar pelakor jangan bangga atas gelarmu kau hanyalah wanita jahan*m bergelarbpelakor Tak usah bangga dengan pendidikanmu yang katanya setinggi langit namun tak bisa tuk jaga harga dirinya Engkau wanita yang bergelar pelakor Apakah kau wanita paling hebat Karena mampi menaklukan suami wanita lain? Sejatinya kau adalah wanita seburuk buruknya wanita Yang harus dibumi hanguskan serta dimusnahkan dari muka bumi Atau pergilah kau ke negeri Israel rayulah laki laki israel sesuka hatimu hancurkan tentara israel dengan jurus pelakormu Barulah kau bisa disebut pelakor hebat.

NEGERI PARA PENGHIANAT 7

Bab 7: Harap yang Menyala, Bukan Sekadar Cahaya Negeri ini telah berkali-kali disakiti oleh penguasanya sendiri. Diperas oleh tangan-tang...